Rabu, 10 Oktober 2012

Pertanyaan Yang Tak Perlu Jawaban

Sudah dua bulan kegiatan KK-PPL berjalan. Ada banyak hal yang menjadi kenangan. Kenalan baru, pengalaman baru, dan yang pasti cerita baru. Cerita terbaru yang membuat aku sangat bingung adalah dekatnya kamu dengan seorang teman kita. Baru saja kita mengenal dia, tapi siswa bisa membaca gerak tubuh kalian, apakah benar yang dikatakan siswa bahwa kalian memiliki hubungan emosional?
Aku gerah mendengar setiap celetukan yang terlontar. Setiap kali ada yang bertanya, "Kamu cemburu?"
Aku  ingin sekali menghilang dari hadapannya daripada menjawab pertanyaan yang tak perlu aku jawab. Aku tak ingin menjawab pertanyaan itu. Aku jawab, "Tidak." maka aku berbohong. Aku jawab, "Iya." aku tahu aku bukan seseorang yang berhak memiliki rasa itu. Karena itulah aku diam. Hanya tersenyum menanggapinya.
Rasanya tak ingin lagi ke sekolah itu, tapi aku harus profesional. Aku telah setuju dengan konsekuensi yang kita terima. Aku akan merasa cemburu melihat kedekatan kamu dengan dia. Semoga aku mampu menghadapi hari-hari yang panjang...
Semoga kamu pun bisa menjaga rasa ini...
Walau aku tahu, kelak kau tak akan menjadi milikku, tapi aku hanya ingin waktu tak berjalan secepat ini...
Ini terlalu cepat untuk aku rasakan. Aku masih belum siap...
Maafkan aku yang masih belum bisa melupakan rasa ini...
Maaf...
- V -

Jumat, 03 Agustus 2012

Menunggu Bangkitmu

Kemarin kita telah merasakan sakitnya jatuh tergelincir. Tak menyangka akan ada kerikil kecil yang mampu menjadikan kita limbung hingga terjatuh. Tak perlu menangis, tersenyumlah. Karena ternyata di depan sana akan ada badai jika kita tetap memaksa mengayuh putaran roda. 

 

Tuhan memiliki cara-Nya sendiri untuk menyelamatkan umat-Nya. Percaya lah... Karena itu, jangan berlama-lama meratapi sakitnya, bangkitlah. 

 

Kukatakan padamu, "Ayo berdiri, kita berjalan saja. Aku gandeng ya?"

 

Kau hanya menatapku, tak meraih tanganku yang masih terjulur menunggu untuk kau raih. 

 

"Jangan takut. Percaya padaku. Aku tak akan membuatmu tergelincir lagi." Aku masih berusaha membuatmu percaya padaku. 

 

Hmm...Apakah kau betah berlama-lama meratapi kesakitan itu? Sementara aku telah bangkit dan ingin kembali menikmati perjalanan. Tidak, aku tidak akan meninggalkan kau sendiri di sini. Tenang saja... Jika kau memang tak percaya pada juluran tanganku, biarkan aku menemani di sini saja. Mungkin hanya kalimat semangat yang dapat kuberikan. Aku tak ingin melihat ekspresi sedihmu dan sakitmu.

 

Aku hanya ingin melihat senyum dan tawa bahagiamu. Namun bukan topeng yang aku mau. Aku selalu siap untuk kau jadikan sandaran. Bukan berarti aku meremehkan kesanggupanmu untuk bangkit dengan kekuatan sendiri, tapi sadarilah bahwa kita adalah manusia. Ada saatnya tak perlu berpikir tentang posisi. Ada saatnya kita tak perlu melihat aturan yang berlaku. Ada saatnya kita tak perlu peduli pada kodrat Adam-Hawa. Namun akan kembali pada asalnya.

 

Tidakkah kau ingin melihat keindahan perjalanan kita di depan sana?Aku ingin, dan aku masih menunggu inginmu...

Jangan lagi kau tengok kerikil yang menjatuhkanmu, dia telah tak berupa karena hilang bersama kerikil yang lain. Tak perlu kau cari yang mana kerikil itu. Tak akan berguna untuk masa kebangkitanmu.Tataplah langit, tak pernah ia mencari hujan yang telah ia turunkan. Tak pernah ia menyesal telah menjadi perantara bumi menurunkan titik air dari surga.

 

Sedikit demi sedikit, sakitmu akan sirna. Jika  masih takut untuk berdiri, tanganku masih terjulur untukmu. Jika masih tak percaya, coba sekali lagi kau cerna, pernahkah aku berniat meninggalkanmu?

 

Kelak, ketika kau bangkit, aku tetap berdiri di sini, tak pernah beranjak.

 

Kelak, ketika kau bangkit, aku tak ingin lagi melihat kesedihanmu karena masa lalu.

 

Kelak, ketika kau bangkit, mari kita bergandengan tangan sambil melangkah ringan penuh cita menikmati perjalanan kita....
:)

- V -


Selasa, 31 Juli 2012

Asing

Sejak keputusanmu malam itu, aku tak lagi merasakan gundah yang berkepanjangan. Memang sudah jelas apa yang terjadi antara kita tak akan bisa lagi berlanjut. Nmaun aku tak ingin kehilangan kamu yang sanggup membuatku merasa nyaman. Jika memang cinta adalah menunggu pangeran berkuda putih, mungkin dalam benakku pangeran itu adalah kamu.
sejenak aku meresapi perubahanmu. Ada yang aneh dengan sikapmu. Serasa asing di hatiku. Apa yang tengah kau rasakan?
Saat aku tahu kamu masih memikirkan dia -sang masa lalumu-, hati ini menjerit kesakitan. Seberapa pantas dia sampai hati masih kau tunggu?
Tidakkah kau lihat aku di sampingmu dengan nyata?
Hhh...
Ya sudahlah...
Namun rasa penasaranku tak berhenti sampai di situ, aku masih saja heran dengan 'asing'mu...
Ketika aku bertanya padamu mengapa, kau hanya mengatakan bahwa kau sedang memikirkan banyak hal. Entah apa itu. Aku tak tahu karena kau tak berniat untuk memberitahuku.
Kubiarkan kau melamun sendiri dalam duniamu. Kutunggu kau keluar dari kungkungan yang telah kau ciptakan sendiri. Aku ingin tahu, apa akhir dari 'asing'mu ini...

Kamis, 26 Juli 2012

Mungkin Sudah Saatnya

Sejenak aku berpikir tentang kita...
Di pagi sedingin ini, otak hampir melepuh karena panas...
Memaksa untuk berpikir tentang apa yang telah terjadi...
Ada senyum yang tak pernah aku rasakan sebelumnya...
Ada kisah yang selalu aku rindukan...
Mungkin kau tak akan pernah tahu itu...
Aku pun mengelak dari kenyataan...
Namun bunda merasakannya...
Bertanya tentang kita, tak bisa kujawab...
Meminta pada kita, tak bisa kupenuhi...
Maafkan aku, Bunda...
Mungkin sudah saatnya aku bicara...
Mungkin sudah saatnya hati melepas...
Bunda, rengkuh aku jika nanti aku goyah...
Bunda, dekap aku jika nanti aku tak mampu berdiri...
Bunda, usap tangisku jika aku kelak merasa sakit...
Bunda, kini kau akan mengerti mengapa aku selama ini diam...

Kamis, 19 Juli 2012

Benih Cinta Yang Aku Jaga

Benih cinta yang aku jaga, mungkin kamu gak akan pernah tahu gimana rasanya hati ini menangis karena takut kehilangan kamu.
Benih cinta yang aku jaga, aku gak akan pernah menghalangi jalanmu jika memang kamu tidak ingin berada di sampingku lagi.
Benih cinta yang aku jaga, aku memang sayang kamu, walaupun kamu gak akan pernah percaya.
Benih cinta yang aku jaga, biarlah aku berada dalam kesakitan ini hingga kelak aku benar-benar akan melepaskan rasa ini.
Benih cinta yang aku jaga, mengapa kamu menghilang? Aku tak ingin seperti ini, aku merindukan kamu...
Benih cinta yang aku jaga, sesak rasanya mengingat kedekatan kita yang hanya sekejap mata. Atau mungkin tak sampai dalam hitungan kedipan mata....
Benih cinta yang aku jaga, aku rela melepaskan kamu, namun aku butuh waktu untuk membiasakan hal itu....
Benih cinta yang aku jaga, semoga kamu merasa tenang setelah aku melepaskan kamu hari ini....
Benih cinta yang aku jaga, aku akan selalu merindukan caramu menatapku, bicaramu padaku, tertawamu, dan segala hal tentangmu...
Benih cinta yang aku jaga, biarkan hati ini mencintaimu hingga lelah menanti...
- V -

Senin, 16 Juli 2012

Apa Namanya..??

Tuhan, berikan aku jawaban atas rasa ini. Apa yang telah aku rasakan? Apa namanya ini, Tuhan? Sangat tidak nyaman saat merasakannya. Mengingat masa lalu bersama mereka, saat bahagia dan sedih bersama, namun mereka tak lagi bersamaku. Melihat saat ini yang penuh dengan misteri dan ketidakpastian. Sesak mengetahui mereka telah melupakan rasa padaku dan telah beralih pada perempuan lain. Namun aku tak boleh egois. Aku harus merelakan mereka, harus.
Masih banyak yang menjadi tanggunganku, Kau tahu itu, Tuhan. Tuhan, sentuh hati ini agar kembali merasakan ketenangan. Tuhan, aku berserah pada-Mu...

Sabtu, 14 Juli 2012

Biarkan Mengalir Saja

Aku merasakan kedamaian saat bersamamu. Aku merasakan bahagia yangg luar biasa saat bersamamu. Aku mampu menjadi diriku sendiri, jujur akan perasaan yang menggelayuti. Aku tak pernah berbohong akan keadaanku padamu. Aku benar-benar ingin bersamamu, merasakan damainya setiap hari.
Namun tak semua akan sempurna, sempurna hanya milik Tuhan. Aku sadari itu. Begitu pula denganmu. Sesempurna apapun aku melihat kamu, nyatanya kamu pun masih memiliki celah yang tak pernah menyempurnakan kesempurnaanmu.
Jujur saja memang ada sedikit keluhanku pada sifat burukmu. Misalnya saja kebiasaan merokokmu atau menyeruput kopi. Bangun di malam hari dan tidur saat umat manusia beraktivitas. Itu adalah contoh dari sifat burukmu yang mengganggu 'kesetiaan'ku.
Harapanku adalah kamu masa depanku. Aku ingin kamu berubah menjadi yang lebih baik, memperbaiki 'kesalahan' yang terdapat dalam dirimu. Akan aku dampingi kamu selama kamu memiliki niat itu. Aku ingin kamu benar-benar melupakan masa lalumu juga. Berpalinglah pada cinta ini...
Hanya itu, hanya itu keinginanku padamu sebenarnya. Aku ingin kamu memperbaiki 'kesalahan' hidup mu dan berjalan di sisiku dengan menatap masa depan secerah mungkin. Kamu adalah laki-laki yang membuatku merasakan 'chemistry'. Laki-laki pertama. 
Namun aku tak ingin membuat semua ini berjalan dengan keterpaksaan. Aku ingin semua ini mengalir dengan tenang. Biarkan saja semua seperti ini. Tanpa ikatan seperti yang kamu inginkan. Yang terpenting adalah hati kita. Semoga saja apa yang di dalam hatimu adalah apa yang di dalam hatiku. 
Aku ingin bertahan dengan rasa ini, aku ingin menjadikan kamu lebih baik. Bukan sekadar keinginanku, tapi ini pun demi kebaikanmu. Aku ingin kita bersama melalui pahit dan manis kehidupan. 
Bisakah? Biarkan semua mengalir saja.. :)
- V -

Kamis, 12 Juli 2012

Tuhan, Aku Lelah

Tahukah kamu bahwa aku menangis merasakan keadaan kita saat ini? Aku tak ingin jauh darimu, aku pun tak ingin kehilangan kamu. Aku ingin selalu merasakan kedekatan yang dulu pernah ada. Selalu merasakan degub jantung yang tak berirama, tak beraturan dengan tenang. Aku ingin kita kembali seperti dulu.
Tuhan, aku merindukan kedekatan dengan dia. Memulai kisah dengan saling bicara, saling mengatakan hal yang sebenarnya telah terjadi. Saling jujur dengan perasaan masing-masing. Aku merindukan itu, Tuhan...
Aku tak ingin dia jauh dariku. Namun aku tak tahu mengapa dia menjauh dariku, apakah karena ia masih saja menyimpan harapan besar untuk kembali pada masa lalunya atau aku tela berbuat kesalahan tanpa aku sadari, aku tak tahu.
Tuhan, sesak dada ini mengingat aku tak lagi dekat dengan dia. Aku hanya bisa menangis, Tuhan. haruskah aku merasakan sakit ini lagi, Tuhan? sudah sekian kali aku merasakannya, aku rasa aku tak sanggup, Tuhan. Siapakah sebenarnya pangeran yang Kau siapkan untukku hingga Kau tak pernah lelah melihatku terjatuh dan bangkit lagi menatap mentari, berkali-kali, hingga aku lelah. Mungkinkah aku terlalu berharap padanya, Tuhan? Aku tahu jika aku terbang terlalu tinggi, saat aku jatuh nanti akan sangat sakit. Namun aku tak ingin terjatuh lagi, Tuhan.
tak cukupkah penerimaanku terhadap apapun kebaikan dan keburukannya? Hingga aku masih saja ditinggalkan? Apakah ini kutukan, Tuhan? Hilangkan kutukan itu, Tuhan. Aku ingin merasakan bahagianya dicintai, Tuhan.
Aku ingin sekali seperti mereka yang berpasangan. Saling sayang, setia, dan melalui semua hal bersama-sama. Aku iri pada mereka, Tuhan. Maafkan aku. Aku terlalu lelah merasakan sakit hati, lelah terjatuh untuk kesekian kalinya.
Tuhan, dengarkah Kau bahwa aku berkata bahwa aku lelah? Hentikan semua ini, Tuhan. Kirimkan pangeran untukku saja. Seperti yang aku harapkan selama ini. Karena aku tak tahu lagi kemana aku harus mencari lagi. bagaimana lagi aku harus mempertahankan dia yang telah aku miliki. Semua telah hilang dari sisiku.
Tuhan, sesak dada ini jika mengingat aku harus kehilangan dia, meninggalkan dia sendiri untuk kebahagiaannya. Tuhan, kuatkan aku.... Aku mohon, Tuhan...
Atau memang jika memang tidak bisa bersamanya, biarkan aku terbang bersama angin layaknya serpihan rontokan bunga...
- V -