Tahukah kamu bahwa aku menangis merasakan keadaan kita saat ini? Aku tak ingin jauh darimu, aku pun tak ingin kehilangan kamu. Aku ingin selalu merasakan kedekatan yang dulu pernah ada. Selalu merasakan degub jantung yang tak berirama, tak beraturan dengan tenang. Aku ingin kita kembali seperti dulu.
Tuhan, aku merindukan kedekatan dengan dia. Memulai kisah dengan saling bicara, saling mengatakan hal yang sebenarnya telah terjadi. Saling jujur dengan perasaan masing-masing. Aku merindukan itu, Tuhan...
Aku tak ingin dia jauh dariku. Namun aku tak tahu mengapa dia menjauh dariku, apakah karena ia masih saja menyimpan harapan besar untuk kembali pada masa lalunya atau aku tela berbuat kesalahan tanpa aku sadari, aku tak tahu.
Tuhan, sesak dada ini mengingat aku tak lagi dekat dengan dia. Aku hanya bisa menangis, Tuhan. haruskah aku merasakan sakit ini lagi, Tuhan? sudah sekian kali aku merasakannya, aku rasa aku tak sanggup, Tuhan. Siapakah sebenarnya pangeran yang Kau siapkan untukku hingga Kau tak pernah lelah melihatku terjatuh dan bangkit lagi menatap mentari, berkali-kali, hingga aku lelah. Mungkinkah aku terlalu berharap padanya, Tuhan? Aku tahu jika aku terbang terlalu tinggi, saat aku jatuh nanti akan sangat sakit. Namun aku tak ingin terjatuh lagi, Tuhan.
tak cukupkah penerimaanku terhadap apapun kebaikan dan keburukannya? Hingga aku masih saja ditinggalkan? Apakah ini kutukan, Tuhan? Hilangkan kutukan itu, Tuhan. Aku ingin merasakan bahagianya dicintai, Tuhan.
Aku ingin sekali seperti mereka yang berpasangan. Saling sayang, setia, dan melalui semua hal bersama-sama. Aku iri pada mereka, Tuhan. Maafkan aku. Aku terlalu lelah merasakan sakit hati, lelah terjatuh untuk kesekian kalinya.
Tuhan, dengarkah Kau bahwa aku berkata bahwa aku lelah? Hentikan semua ini, Tuhan. Kirimkan pangeran untukku saja. Seperti yang aku harapkan selama ini. Karena aku tak tahu lagi kemana aku harus mencari lagi. bagaimana lagi aku harus mempertahankan dia yang telah aku miliki. Semua telah hilang dari sisiku.
Tuhan, sesak dada ini jika mengingat aku harus kehilangan dia, meninggalkan dia sendiri untuk kebahagiaannya. Tuhan, kuatkan aku.... Aku mohon, Tuhan...
Tuhan, aku merindukan kedekatan dengan dia. Memulai kisah dengan saling bicara, saling mengatakan hal yang sebenarnya telah terjadi. Saling jujur dengan perasaan masing-masing. Aku merindukan itu, Tuhan...
Aku tak ingin dia jauh dariku. Namun aku tak tahu mengapa dia menjauh dariku, apakah karena ia masih saja menyimpan harapan besar untuk kembali pada masa lalunya atau aku tela berbuat kesalahan tanpa aku sadari, aku tak tahu.
Tuhan, sesak dada ini mengingat aku tak lagi dekat dengan dia. Aku hanya bisa menangis, Tuhan. haruskah aku merasakan sakit ini lagi, Tuhan? sudah sekian kali aku merasakannya, aku rasa aku tak sanggup, Tuhan. Siapakah sebenarnya pangeran yang Kau siapkan untukku hingga Kau tak pernah lelah melihatku terjatuh dan bangkit lagi menatap mentari, berkali-kali, hingga aku lelah. Mungkinkah aku terlalu berharap padanya, Tuhan? Aku tahu jika aku terbang terlalu tinggi, saat aku jatuh nanti akan sangat sakit. Namun aku tak ingin terjatuh lagi, Tuhan.
tak cukupkah penerimaanku terhadap apapun kebaikan dan keburukannya? Hingga aku masih saja ditinggalkan? Apakah ini kutukan, Tuhan? Hilangkan kutukan itu, Tuhan. Aku ingin merasakan bahagianya dicintai, Tuhan.
Aku ingin sekali seperti mereka yang berpasangan. Saling sayang, setia, dan melalui semua hal bersama-sama. Aku iri pada mereka, Tuhan. Maafkan aku. Aku terlalu lelah merasakan sakit hati, lelah terjatuh untuk kesekian kalinya.
Tuhan, dengarkah Kau bahwa aku berkata bahwa aku lelah? Hentikan semua ini, Tuhan. Kirimkan pangeran untukku saja. Seperti yang aku harapkan selama ini. Karena aku tak tahu lagi kemana aku harus mencari lagi. bagaimana lagi aku harus mempertahankan dia yang telah aku miliki. Semua telah hilang dari sisiku.
Tuhan, sesak dada ini jika mengingat aku harus kehilangan dia, meninggalkan dia sendiri untuk kebahagiaannya. Tuhan, kuatkan aku.... Aku mohon, Tuhan...
Atau memang jika memang tidak bisa bersamanya, biarkan aku terbang bersama angin layaknya serpihan rontokan bunga...
- V -

Tidak ada komentar:
Posting Komentar