Selasa, 29 Mei 2012

Mungkin Memang Yang Terakhir

Sejak keputusanmu, aku menghilang dari peredaranmu. Aku pikir kau akan merindukan kehadiranku dan mencari keberadaanku. Namun hari demi hari kulewati, hingga tercipta kata ‘dua minggu’. Tak ada kabar darimu, kau pun tak mencariku. Aku berpikir dengan logika, mengikuti jejakmu, sang pemuja logika. Saat kita bersama saja kau tak pernah sedikitpun merasa rindu padaku jika aku menghilang tanpa kabar, bagaimana dengan keadaan sekarang? Tak ada alasan bagimu untuk merindukan kehadiranku. Aku bukanlah orang penting dalam hidupmu, jadi wajarlah jika memang kau tak pernah menoleh padaku.
Sejak kita berpisah, aku mencari tahu apa yang sebenarnya menjadi alasanmu meninggalkan aku. Kutemukan jawaban itu, dan kamu tahu? Betapa sakit hati ini saat mengetahuinya namun tak lama kemudian aku tertawa. Menertawakan alasan konyolmu. Tak habis pikir aku mendengar bahwa ka menyangka aku sedang membalas budimu dengan menyayangi kamu. Juga alasan aku terlalu berlebihan dalam mengungkapkan rasa sayang.
Bagimu, ucapan ‘Love’ you sangat berlebihan untuk diucapkan. Tidak tahukah kamu bahwa kata itu sangat penting bagi seorang perempuan. Tidak hanya untuk aku. Sadarkah kau bahwa ketidakpedulianmu pada seorang kekasih adalah tidak wajar dan berlebihan? Aku hanya ingin memberikan contoh bagaimana memperlakukan seorang kekasih, namun rupanya kamu salah paham dan menganggap bahwa aku alay. Terserahlah apa penilaianmu terhadap aku, yang jelas aku semakin sadar bahwa kita benar-benar berbeda. Aku memang sayang padamu, ingin kembali padamu, namun sejak aku tahu apa alasanmu, rasa cinta itu semakin lama semakin mengecil. Tidak, aku tidak melupakan rasa sayang padamu dengan cepat, hanya saja kamu yang memintanya seperti itu.
Tentang balas budi, tak pernah terpikir olehku bahwa rasa sayang itu adalah bentuk balas budi. Aku tulus menyayangimu. Memang aku berterimakasih padamu karena telah membantuku bangkit saat aku terpuruk, tak aku pungkiri itu. Namun sayang dan kasih yang aku berikan selama ini tak ada kaitannya dengan ucapan terima kasih itu. Sungguh benar-benar tidak ada.
Asal kau tahu, aku masih ingin merasakan belaian kasihmu, aku merindukan panggilan sayang darimu, dan aku menunggu kalimat maaf terucap dari bibirmu. Namun aku harus mengubur harapan itu karena aku tahu kau tak akan melakukan itu lagi untukku.
Sedemikian pentingnya kah urusan organisasimu hingga kau tak dapat melihat kasih ini? Sedemikian pentingnya kah sahabat bagimu hingga kau tak merasakan sayang ini? Entahlah, bagaimana jalan pikiranmu. Aku tak pernah mengerti.
Sudahlah, obrolan kita kemarin adalah yang terakhir. Mungkin saja aku malas menghubungimu. Mungkin saja kelak kau akan benar-benar hilang dari ingatanku tergantikan dengan banyak hal yang menjadi tanggung jawabku pula. Maaf jika memang itu akan terjadi. Sementara aku telah sadar sejak awal bahwa aku adalah masa lalu untukmu, dan bagimu masa lalu hanyalah masa lalu, tak lebih. Maka masa lalu adalah sampah yang harus dibuang. Aku adalah masa lalu yang siap masuk tong sampah. Silahkan kau berlari meninggalkan aku, tak akan aku pegang tanganmu karena kau telah melepas tangan ini.
Selamat tinggal, kenangan....
Kelak, saat kita telah di garis bahagia dengan seseorang yang telah memegang tangan kita, bahagia lah kita.
Kelak, bahagia tengah menanti....
Maafkan aku jika kelak aku tak dapat mengenalimu dengan baik....


Tidak ada komentar: