Sejak keputusanmu, aku menghilang dari peredaranmu. Aku
pikir kau akan merindukan kehadiranku dan mencari keberadaanku. Namun hari demi
hari kulewati, hingga tercipta kata ‘dua minggu’. Tak ada kabar darimu, kau pun
tak mencariku. Aku berpikir dengan logika, mengikuti jejakmu, sang pemuja
logika. Saat kita bersama saja kau tak pernah sedikitpun merasa rindu padaku
jika aku menghilang tanpa kabar, bagaimana dengan keadaan sekarang? Tak ada
alasan bagimu untuk merindukan kehadiranku. Aku bukanlah orang penting dalam
hidupmu, jadi wajarlah jika memang kau tak pernah menoleh padaku.
Sejak kita berpisah, aku mencari tahu apa yang sebenarnya
menjadi alasanmu meninggalkan aku. Kutemukan jawaban itu, dan kamu tahu? Betapa
sakit hati ini saat mengetahuinya namun tak lama kemudian aku tertawa.
Menertawakan alasan konyolmu. Tak habis pikir aku mendengar bahwa ka menyangka
aku sedang membalas budimu dengan menyayangi kamu. Juga alasan aku terlalu
berlebihan dalam mengungkapkan rasa sayang.
Bagimu, ucapan ‘Love’ you sangat berlebihan untuk
diucapkan. Tidak tahukah kamu bahwa kata itu sangat penting bagi seorang
perempuan. Tidak hanya untuk aku. Sadarkah kau bahwa ketidakpedulianmu pada
seorang kekasih adalah tidak wajar dan berlebihan? Aku hanya ingin memberikan
contoh bagaimana memperlakukan seorang kekasih, namun rupanya kamu salah paham
dan menganggap bahwa aku alay. Terserahlah apa penilaianmu terhadap aku, yang
jelas aku semakin sadar bahwa kita benar-benar berbeda. Aku memang sayang padamu,
ingin kembali padamu, namun sejak aku tahu apa alasanmu, rasa cinta itu semakin
lama semakin mengecil. Tidak, aku tidak melupakan rasa sayang padamu dengan
cepat, hanya saja kamu yang memintanya seperti itu.
Tentang balas budi, tak pernah terpikir olehku bahwa rasa
sayang itu adalah bentuk balas budi. Aku tulus menyayangimu. Memang aku berterimakasih
padamu karena telah membantuku bangkit saat aku terpuruk, tak aku pungkiri itu.
Namun sayang dan kasih yang aku berikan selama ini tak ada kaitannya dengan
ucapan terima kasih itu. Sungguh benar-benar tidak ada.
Asal kau tahu, aku masih ingin merasakan belaian kasihmu,
aku merindukan panggilan sayang darimu, dan aku menunggu kalimat maaf terucap
dari bibirmu. Namun aku harus mengubur harapan itu karena aku tahu kau tak akan
melakukan itu lagi untukku.
Sedemikian pentingnya kah urusan organisasimu hingga kau
tak dapat melihat kasih ini? Sedemikian pentingnya kah sahabat bagimu hingga
kau tak merasakan sayang ini? Entahlah, bagaimana jalan pikiranmu. Aku tak
pernah mengerti.
Sudahlah, obrolan kita kemarin adalah yang terakhir. Mungkin
saja aku malas menghubungimu. Mungkin saja kelak kau akan benar-benar hilang
dari ingatanku tergantikan dengan banyak hal yang menjadi tanggung jawabku
pula. Maaf jika memang itu akan terjadi. Sementara aku telah sadar sejak awal
bahwa aku adalah masa lalu untukmu, dan bagimu masa lalu hanyalah masa lalu,
tak lebih. Maka masa lalu adalah sampah yang harus dibuang. Aku adalah masa
lalu yang siap masuk tong sampah. Silahkan kau berlari meninggalkan aku, tak
akan aku pegang tanganmu karena kau telah melepas tangan ini.
Selamat tinggal, kenangan....
Kelak, saat kita telah di garis bahagia dengan seseorang
yang telah memegang tangan kita, bahagia lah kita.
Kelak, bahagia tengah menanti....
Maafkan aku jika kelak aku tak dapat mengenalimu dengan
baik....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar