Senin, 21 Mei 2012

Keputusanmu

Aku lupa menulis tentang ini. Sebenarnya aku tak ingin menceritakannya, tapi hatiku terlalu 'penuh' maka aku memutuskan untuk menuangkannya di sini.
Pada tanggal 8 Mei yang lalu, aku menangis pada seorang kawan. Kukatakan padanya semua rasa dalam hati. Sungguh, aku merasakan ketenangan dari setiap pesannya. Aku tak sempat mengatakan 'Terima kasih' padanya karena terlampau susah untuk kembali berkomunikasi dengannya. Ada satu alasan dimana aku tak ingin kehadiranku membunuh suasana bahagia di sekelilingnya.
Malam itu juga, untuk terakhir kalinya aku mendengar suaramu. Suara yang selama lima bulan perjalanan kisah kita selalu aku rindukan. Aku sadar, aku tak mungkin mengikatmu jika kamu selalu ingin berpisah dengan talinya. Maka ketika keputusanmu adalah 'Putus', aku hanya mengelus dada, menahan air mata yang tak mampu lagi tertampung, dan menguatkan hatiku sendiri.
Malam itu, tak ada satu pun bintang yang hadir menemani aku. Bahkan untuk beberapa hari setelahnya, langit mendung, tak bersahabat. Seperti aku yang tak masih tak mampu membendung air mata dan kesedihan karena keputusanmu.
Tak hanya keputusanmu yang menjadikan aku menggeleng kepala heran. Alasan yang ajukan pun membuat aku terheran-heran. Alasan itu bisa saja terpecahkan jika kau mau dan kau ingin kita tetap bersama. Namun aku telah mendengar alasanmu yang sebenarnya. Aku tahu dari salah satu sahabatmu. Aku percaya padanya.
Alasanmu benar-benar membunuh rasa sayang yang selama ini aku pupuk. Kau katakan aku menjadikanmu pelampiasan, itu sungguh melecehkan aku. Bagaimana bisa kau berpikir aku sekedar balas budi atas kebahagiaan yang telah kau berikan saat aku sedang bangkit dari keterpurukan? 
Kau juga mengatakan bahwa aku berlebihan dalam mencintaimu. Memang aku akui aku berlebihan mencintaimu, karena aku merasakan kebahagiaan dan merasa dihargai sebagai perempuan hanya denganmu. Tidak dengan laki-laki lain. Tapi aku menunjukkan 'berlebihan' itu karena aku ingin kau sadar bahwa kita ini adalah pasangan. kita ini bukan sekedar teman atau sahabat.
Aku butuh kepastian darimu. Sadarkah kamu bahwa sikapmu padaku tak ada yang menunjukkan bahwa kau adalah lelakiku?
Sadarkah kamu bahwa aku cemburu ketika kau lebih khawatir karena sahabatmu hilang di tengah keramaian daripada mengkhawatirkan aku yang kedinginan karena udara malam? Bahkan kau tak sedikitpun khawatir padaku jika aku hilang tanpa kabar. Sepenting itukan sahabatmu daripada aku yang mungkin saja menjadi masa depanmu?
Aku pendam kecemburuan itu. Aku simpan amarah itu, bukan hanya perkara sepele itu tapi juga karena perkara lainnya. Tak kulihat gelagatmu berusaha menyeimbangkan keadaan denganku. Aku gerah bukan main.
Satu hal yang pasti, keputusanmu adalah yang terbaik. Memang yang terbaik untuk kamu. Aku tak akan mengejarmu lagi. Sudah cukup aku kehilangan kendali karena kepergianmu, maka jangan pernah kau hadir dengan membawa harapan padaku jika itu hanya untuk kau permainkan.

Tidak ada komentar: