Aku lupa menulis tentang ini. Sebenarnya aku tak ingin menceritakannya, tapi
hatiku terlalu 'penuh' maka aku memutuskan untuk menuangkannya di sini.
Pada tanggal 8 Mei yang lalu, aku menangis pada seorang kawan. Kukatakan
padanya semua rasa dalam hati. Sungguh, aku merasakan ketenangan dari setiap
pesannya. Aku tak sempat mengatakan 'Terima kasih' padanya karena terlampau
susah untuk kembali berkomunikasi dengannya. Ada satu alasan dimana aku tak
ingin kehadiranku membunuh suasana bahagia di sekelilingnya.
Malam itu juga, untuk terakhir kalinya aku mendengar suaramu. Suara yang
selama lima bulan perjalanan kisah kita selalu aku rindukan. Aku sadar, aku tak
mungkin mengikatmu jika kamu selalu ingin berpisah dengan talinya. Maka ketika
keputusanmu adalah 'Putus', aku hanya mengelus dada, menahan air mata yang tak mampu
lagi tertampung, dan menguatkan hatiku sendiri.
Malam itu, tak ada satu pun bintang yang hadir menemani aku. Bahkan untuk
beberapa hari setelahnya, langit mendung, tak bersahabat. Seperti aku yang tak
masih tak mampu membendung air mata dan kesedihan karena keputusanmu.
Tak hanya keputusanmu yang menjadikan aku menggeleng kepala heran. Alasan
yang ajukan pun membuat aku terheran-heran. Alasan itu bisa saja terpecahkan
jika kau mau dan kau ingin kita tetap bersama. Namun aku telah mendengar
alasanmu yang sebenarnya. Aku tahu dari salah satu sahabatmu. Aku percaya
padanya.
Alasanmu benar-benar membunuh rasa sayang yang selama ini aku pupuk. Kau
katakan aku menjadikanmu pelampiasan, itu sungguh melecehkan aku. Bagaimana
bisa kau berpikir aku sekedar balas budi atas kebahagiaan yang telah kau
berikan saat aku sedang bangkit dari keterpurukan?
Kau juga mengatakan bahwa aku berlebihan dalam mencintaimu. Memang aku akui
aku berlebihan mencintaimu, karena aku merasakan kebahagiaan dan merasa
dihargai sebagai perempuan hanya denganmu. Tidak dengan laki-laki lain. Tapi
aku menunjukkan 'berlebihan' itu karena aku ingin kau sadar bahwa kita ini
adalah pasangan. kita ini bukan sekedar teman atau sahabat.
Aku butuh kepastian darimu. Sadarkah kamu bahwa sikapmu padaku tak ada yang
menunjukkan bahwa kau adalah lelakiku?
Sadarkah kamu bahwa aku cemburu ketika kau lebih khawatir karena sahabatmu
hilang di tengah keramaian daripada mengkhawatirkan aku yang kedinginan karena
udara malam? Bahkan kau tak sedikitpun khawatir padaku jika aku hilang tanpa
kabar. Sepenting itukan sahabatmu daripada aku yang mungkin saja menjadi masa
depanmu?
Aku pendam kecemburuan itu. Aku simpan amarah itu, bukan hanya perkara
sepele itu tapi juga karena perkara lainnya. Tak kulihat gelagatmu berusaha
menyeimbangkan keadaan denganku. Aku gerah bukan main.
Satu hal yang pasti, keputusanmu adalah yang terbaik. Memang yang terbaik
untuk kamu. Aku tak akan mengejarmu lagi. Sudah cukup aku kehilangan kendali
karena kepergianmu, maka jangan pernah kau hadir dengan membawa harapan padaku
jika itu hanya untuk kau permainkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar