Simpul tali kita telah berubah bentuk. Meski bukan lagi untuk mengikat rasa, tali itu telah mengikat kita menjadi sepasang telinga. Siap saling mendengarkan apapun kesah kita tentang simfoni kehidupan. Nada sumbang, nada indah, balok yang bukan pada tempatnya, dan tepatnya semua balok di titik nada, menjadikan setiap pertemuan kita ramai dan menenangkan hati.
Saat hati berperang melawan kristal benih aphrodite, saat itulah nurani berusaha menyentuh iman yang telah teguh akan keputusan kita. Melelahkan memang, tahukah kamu tentang itu? Aku rasa kau tak akan pernah peduli.
Layaknya soda dalam lambung, rindu yang tak sanggup jujur meski hanya sebuah aksara, membuat hati dan rasa kian menyimpan gelembung tak bernilai. Memenuhi setiap sudut ruang yang masih saja kosong. Salahkah dengan perubahan simpul tali kita? Aku harap tidak, karena aku menikmatinya. Perubahan simpul tali telah menopang setiap kelelahan batinku, amanatmu membantuku melalui keresahan, dan tawa senyummu mengembalikan semangatku. Namun aku tak memberikan apapun untukmu. Maafkan aku.
Ketika mulut memintamu pergi, sebenarnya aku ingin memintamu jangan pergi.
Ketika kelopak mata ini tertutup tak ingin melihatmu, sebenarnya aku ingin bermimpi tentang kamu.
Ketika tangan mengisyaratkan menjauhlah dariku, sebenarnya aku ingin meminta padamu untuk mendekat.
Ketika kaki melangkah pulang, sebenarnya aku ingin tetap di tempat.
Berubahlah diri ini menjadi sosok munafik.
Kunikmati itu semua...
Kuberi ruang untuk mereka memberikan kasih padamu, kulihat sinar matamu, tak bisa kutebak. Namun hati ini memberikan sinyal untuk menjauh, menghindari nyeri.
Kuundang cinta untuk kau pilih, meski kau hanya menanggapinya dengan tawa, ada yang lain dengan tawa itu. Kembali hati ini meminta untuk pergi, menghindari sakit.
Rupanya perubahan simpul tali kita telah mengajarkan aku tentang kemunafikan, dan aku telah menjadi tokoh utama. Memerankan setiap dialog munafik. Di depanmu, di belakangmu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar