Entah mengapa setiap kali aku membaca namamu di layar PC ketika membuka salah satu jejaring sosialku, aku merasa muak. Apakah karena perlakuanmu padaku? Mungkin saja. Padahal sebelumnya aku sangat mencintaimu, seakan-akan tak ada lagi yang lain di hati.
Sekarang, aku hanya ingin mngatakan kebenaran, bahwa kau tak sesempurna saat aku 'buta'. Bukan aku mencari kesempurnaan, tapi kau lah yang memaksa aku untuk bersikap seperti ini. Aku tak pernah menerima alasan yang kau ajukan. Aku pun tak pernah mengiyakan bahwa kita telah berpisah. Karena aku tahu kau telah memiliki dunia sendiri. Di sana, kau tertawa, tak pernah menyadari bahwa itu menyakitkan aku karena saat kau tertawa, kau tak pernah pedulikan aku. Sementara aku, saat aku sakit, lemah, sedih, atau pun bahagia, aku selalu menginngat kamu, aku ingin berbagi kebahagiaan denganmu. Aku tidak sedang menghitung kerugian yang aku alami, aku hanya ingin kau tahu bahwa kau adalah laki-laki yang sama saja dengan lainnya. Tak memiliki tanggung jawab pada apa yang telah kamu lakukan. Kau pandai berteori, tapi praktekmu NOL..!!
Tahukah kamu bahwa aku sangat muak melihat tampangmu. Aku ingin sekali menampar wajahmu. Benar ini yang ingin aku sampaikan. Agar kau sadar bahwa kau ini bukanlah laki-laki sempurna. Agar kau sadar bahwa kau tak layak menyakiti hati perempuan lain hanya karena harus mengikuti arahmu. Tidak semua perempuan dapat menerima kamu seperti aku menerima kamu. Tak sadarkah kamu? Apa yang kau banggakan dari kelakuan dan sifat serta penampilanmu? Orasi kah yang kamu banggakan? Masih banyak ahli orasi yang lainnya. Kepandaianmu kah? Masih banyak profesor yang jauh lebih pandai darimu. Tampangmu kah? Masih banyak laki-laki tampan yang jauh lebih tampan darimu. Moralmu kah? Aku rasa kau tak memiliki moral yang baik, jika memang kau memiliki moral, kau tak akan pernah menyakiti hati seorang perempuan karena kau sadar bahwa ibumu adalah perempuan.
Sudahlah, aku hanya ingin mengatakan kebenaran ini. Bahwa aku bukanlah perempuan kecil lagi. Tak bisa lagi kau permainkan aku.
Tahukah kamu bahwa aku sangat muak melihat tampangmu. Aku ingin sekali menampar wajahmu. Benar ini yang ingin aku sampaikan. Agar kau sadar bahwa kau ini bukanlah laki-laki sempurna. Agar kau sadar bahwa kau tak layak menyakiti hati perempuan lain hanya karena harus mengikuti arahmu. Tidak semua perempuan dapat menerima kamu seperti aku menerima kamu. Tak sadarkah kamu? Apa yang kau banggakan dari kelakuan dan sifat serta penampilanmu? Orasi kah yang kamu banggakan? Masih banyak ahli orasi yang lainnya. Kepandaianmu kah? Masih banyak profesor yang jauh lebih pandai darimu. Tampangmu kah? Masih banyak laki-laki tampan yang jauh lebih tampan darimu. Moralmu kah? Aku rasa kau tak memiliki moral yang baik, jika memang kau memiliki moral, kau tak akan pernah menyakiti hati seorang perempuan karena kau sadar bahwa ibumu adalah perempuan.
Sudahlah, aku hanya ingin mengatakan kebenaran ini. Bahwa aku bukanlah perempuan kecil lagi. Tak bisa lagi kau permainkan aku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar