Rabu, 06 Juni 2012

Apakah Kamu...?

Hari berganti hari, tanpa aku sadari aku mulai terbiasa dengan 'kesendirian'. Dia yang terakhir menjalin hubungan denganku lah yang mengajarkannya. Dia yang meninggalkan aku demi berbakti pada kampus, membuangku tanpa sedikitpun sesal. Hati ini tersakiti tanpa sadar, akankah terus begitu? Aku telah mengakhirinya. Aku memilih untuk selamanya tidak berkomunikasi dengannya. Karena memang itu yang dia inginkan. Kublokir semua akses komunikasi dengannya. Tak tahu dan tak ingin tahu bagaimana keadaannya. Aku ingin dia merasakan apa yang aku rasakan saat dia melakukan hal yang serupa.
Hari berganti hari, setiap waktu ada cerita baru. Aku suka. Aku ingin benar-benar meninggalkan semua. Aku akan memulai hari baru penuh canda dan tawa, bukan tangisan.
Dia harusnya tahu bahwa aku memiliki sisa kekuatan yang tak cukup banyak saat dia memilih pergi dan menghilang, namun dia tak pernah mau tahu. Sibuk dengan dunianya sendiri.
Kini, ada kisah yang kembali terjalin. Memang masih belum menjadi sebuah ikatan, tapi aku merasa ada yang berbeda. Sesungguhnya di setiap kisah pasti ada yang berbeda, dan inilah yang menjadikan dunia terasa indah penuh warna.
Kamu hadir dalam ceritaku, membuat aku merasa 'aneh' dengan kata 'jatuh cinta'. Mengapa aku baru sekarang merasakan debaran jantung yang tak terkendali? Padahal kita telah bersama satu atap pendidikan sejak tiga tahun yang lalu. Apakah karena aku telah kehilangan dia dan kamu berikan aku tawa? Atau karena aku baru menyadari kepolosanmu yang menggemaskan itu? Entahlah...
Kamu telah mengetahui apa yang menjadi pikiranku, aku pun telah mengetahui apa yang menjadi pikiranmu. Kita telah berusaha saling memahami. Walau keterikatan masih belum terjalin.
Aku ingin jujur padamu sebelum kita melanjutkan perjalanan ini, bahwa aku merasa takut dengan banyak hal. Ketakutanku yang pertama, kamu memiliki sifat yang sama dengan dua orang masa laluku, semua telah membuat aku kecewa. Kamu tahu apa itu? Sifat pendiammu. Aku sedikit trauma dengan lelaki pendiam. 
Ketakutanku yang kedua, aku tahu kamu masih belum bisa melupakan masa lalumu, begitu pula dengan aku, maka aku tak ingin kita saling menyakiti karena masa lalu.
ketakutanku yang ketiga, sejenak kita memang bersama, bertatap muka. Namun kelak, kita akan dipisahkan oleh waktu dan jarak, akankah kita bertahan? Aku telah menjalani kisah yang terpisahkan oleh waktu dan jarak, dan semua gagal. Aku tak ingin lagi mengalami kegagalan.
Ketakutanku yang terakhir, aku masih bertanya pada diri sendiri, "Apakah kamu yang terakhir untukku? Karena aku tak ingin lagi merasakan kepedihan perpisahan."
Satu hal yang harus kamu tahu setelah kamu mengetahui ketakutanku, "Aku ingin memang kamu lah yang terakhir, bukan untuk melepaskan masa lalu, tapi untuk merencanakan masa depan."
Apakah kamu berpikiran yang sama denganku?
Pikirkanlah sebelum kamu meminta aku untuk berubah mencintaimu....

Tidak ada komentar: