Aku merasa kesal dengan semua sikap dan sifatmu. Namun kau tak pernah sadar bahwa apa yang telah kau lakukan hampir selalu membuatku kesal. Entah apa yang membuatku kesal padamu, aku tak suka saat kamu tak bisa mengerti dengan apa yang aku mau, saat kamu memperlakukan aku tak berarti. Seakan aku hanya sampah usang tak berguna.
Pernah kah kamu mengingat dulu kita pernah bersama? Sikap hangatmu padaku yang membuat aku semakin luluh dan terperangkap dalam cintamu. Namun itu tak berlangsung lama karena kau pun menghilang walau terlihat olehku. Kamu bukan lagi orang yang aku kenal. Kamu bukan lagi orang yang mampu memperlakukan aku seperti awal kedekatan kita.
Kecewa... Aku benar-benar kecewa. Jika memang kamu tidak bisa membalas cinta ini, mengapa kamu biarkan aku tenggelam dalam cintamu lalu tanpa rasa bersalah kau pergi meninggalkan aku kemudian memperlakukan aku selayaknya sampah, seakan tak pernah kenal. Bisakah kamu memperlakukan aku seperti kamu memperlakukan orang lain?
Aku ini bukan patung, aku pun ingin merasakan kebahagiaan. Bukan aku tidak mengingat apa yang pernah terucap padamu, aku masih ingat karena memang aku merasakan itu. Namun aku ingin membuka hati untuk yang lain. Sisa satu cinta yang masih ada akan aku berikan pada orang yang tepat, orang yang benar-benar menginginkan aku.
"Aku punya lima cinta, satu telah aku serahkan sepenuhnya pada Tuhan dan keluargaku, dua telah gagal dalam perjalanan, satu telah aku berikan padamu, dan satu lagi masih utuh. Jika kamu memang tidak bisa membalas rasa ini, aku tau aku harus menghapus cinta ini juga, namun aku butuh waktu. Setelah itu aku tidak tahu harus apa dengan sisa cintaku. Akankah aku berikan pada orang lain atau tidak sama sekali walau aku telah memilih salah satu di antara mereka." itu yang aku katakan padamu.
Hari ini, masih aku ingat jelas bagaimana aku mengatakan itu dalam keadaan sadar. Kini, dengan kesadaran penuh pula aku akan mengatakan pada dunia bahwa aku ingin MOVE ON. Ini adalah cara dan jalan terbaik yang aku ambil. Aku tidak ingin lagi merasakan sakitnya disakiti tanpa sadarmu.
"Butuh bantuan?" kutawarkan tenaga dan pikiranku padamu, tanpa ada maksud tersembunyi, berkali-kali aku tanyakan namun tidak ada respon darimu.
Ternyata kamu lebih memilih bercerita tentang kesulitanmu pada orang lain, bukan padaku. Adakah kamu tau tentang rasa ini?
SAKIT.
Itu yang aku rasakan. Menghembuskan napas panjang dan berat berkali-kali karena sesak akan perlakuanmu.Suah cukup akan semua ini. Aku tak ingin dan benar-benar tak ingin kembali padamu. Entah apa yang akan menjadi pembicaraan orang lain terhadap kamu, aku tak peduli. Aku tak akan lagi peduli akan perasaanmu ketika orang lain mengatakan kamu jahat.
Ini adalah pilihanmu, pilihanmu untuk ingin dinilai buruk oleh orang lain. Aku hanya ingin bersikap profesional, tidak melihat bagaimana kisah kita. Aku menyerah untuk memahami kamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar