Senin, 06 Februari 2012

Mahalnya Pertemuan Kita

Waktu terasa sangat cepat berjalan jika aku di sampingmu. Waktu terasa sangat lambat jika aku jauh darimu. Hanya sekejap saja pertemuan kita semalam. Namun rasanya luar biasa. Inikah nikmatnya jatuh cinta? Yang pertama aku rasakan denganmu. Tak bosan aku melihat wajahmu yang membawa kedamaian dalam hati. Tak pernah aku bosan memandang wajahmu yang semakin indah di hati.
Sungguh, ini adalah pengalaman pertamaku melihat seseorang dengan rasa nyaman, tak merasa bosan meski sekian lama memandang.
Kasih, apa yang tengah kau rasakan untukku?
Adakah aku di hatimu?
Meski aku tahu jawabanmu, namun aku ingin mendengar, mendengar, dan mendengarnya lagi.
Orang bilang aku adalah pujangga. Bukan, aku bukan pujangga. Aku hanyalah seorang pencipta cerita atas apa yang aku kerjakan, aku alami, aku rasakan. Aku tidak pernah pandai merangkai kata demi kata yang indah seperti layaknya pujangga.
Beberapa kali kita bertemu, semua pertemuan kita sangat singkat. Namun aku berharap kisah kita tak sesingkat pertemuan kita. Karena aku telah menyandarkan bagian dari yang paling penting dari hidup ini di bahumu. Karena aku telah memasrahkan perjalanan kisahku bersamamu.
Mahalnya pertemuan kita. Jauh kita melangkahkan kaki, menempuh jarak yang tak wajar, hanya untuk sedetik pertemuan. Namun aku sangat menikmati semua ini.
Kasih, aku harap kamu lah yang terakhir untukku, karena aku telah lelah dengan semua cerita cinta yang tiada akhir. Aku lelah bergaul dengan masa lalu yang kelam, masa lalu yang mungkin tak akan pernah bisa aku maafkan dengan sepenuh hati.
Mahalnya pertemuan kita adalah kenikmatan tersendiri bagi kita dalam menjalani hubungan ini. Jangan pernah bosan dengan hubungan kita, dan jangan pernah bosan untuk membaca kisah kita.
Sekali lagi aku katakan, jangan percaya mereka yang mengatakan bahwa aku adalah pujangga, aku tak pantas untuk menjadi pujangga. Merangkai kata saja aku tak seindah penyair cinta. Aku adalah aku, yang hanya mensyukuri pertemuan kita. Aku adalah aku, yang berusaha mengindahkan setiap pertemuan kita.

Rabu, 01 Februari 2012

Berpikir - Berperasaan - Bertindak

Malam ini aku berpikir, apakah kamu rela melepaskan aku begitu saja?
Malam ini aku berperasaan, kamu tidak ada hati padaku...
Malam ini aku bertindak, bukan kepadamu, tapi pada hatiku...

Malam ini aku menyatakan pada hatiku sendiri, bahwa aku ingin kamu lah yang teakhir untukku. Aku ingin kamu sadar dengan sendirinya bahwa aku sangat menyayangimu...
Malam ini aku menguatkan hati untuk selalu meyakini bahwa kamu sayang padaku, meski aku tak pernah tahu apa yang menjadi pikiranmu....

Ku sadari, aku hanyalah perempuan biasa, yang tak memiliki apapun, yang penuh dengan kekurangan. Karena itulah aku merasa kurang pantas untuk kamu miliki, yang menurut aku, kamu adalah sosok yang sempurna.

Malam ini, entah mengapa aku sangat menginginkan kehadiranmu, sangat, sangat, dan sangat...

Malam ini, entah mengapa ketakutan yang luar biasa menyergapku. Seolah aku tidak pernah ingin kehilangan kamu, tidak pernah ingin. Mengertikah itu, kasih?

Ada banyak hal yang aku pertanyakan tentang kamu, sayang sekali kamu tidak pernah bisa aku ajak bicara. Jujur saja aku kecewa, namun aku pendam saja kekecewaanku itu. Karena aku sangat tidak ingin kamu menghindariku.

Kasih, apakah kamu ingin aku yang kelak menjadi pendampingmu? Seberapa besar keinginan itu? Aku ingin kamu berjuang, bukan sekedar mengikuti takdir. Aku ingin kamu memertahankan aku, bukan sekedar mengikuti alur Tuhan.

Kasih, seberapa besar sayangmu padaku? Aku ingin tahu, bukan untuk membandingkan, tapi untuk meyakinkan aku bahwa aku ada dalam hatimu.

Kasih, ini adalah suara hatiku, aku ingin kamu tahu.
Aku ingin kamu mengerti....

Aku mohon, berubahlah demi kebaikan kita bersama....
Bukan aku tidak menerima kamu apa adanya, tapi aku ingin kita saling memahami dan berusaha saling memberikan yang terbaik.

Aku sayang kamu, 'AV'
:)

Sabtu, 28 Januari 2012

Titik Terendah

Sampai detik ini, aku belum juga merasakan bahagia di atas angan-angan. Semua seakan hanya berjalan di atas bayanganku. Tidak pernah menyentuh hati dan jiwa ini.
Keadaan menjadikan aku terpuruk dan merasa kecil. Ini adalah titik terendahku. Dan aku muak dengan keadaan ini.
Ketika aku menghargainya, dia justru membalasnya dengan ludah. Ketika aku menyayanginya, dia justru membalasnya dengan penghianatan.
Tak pernahkah dia berpikir apa yang seharusnya dia lakukan padaku untuk membalas setiap inci dari pengorbanan yang aku berikan. Tidakkah dia sedikit merasakan kesakitan yang aku rasakan ketika dia bersama yang lain.
Masih adakah rasa sayang dan rasa manusiawi dlaam hatinya? Ku pikir itu sudah tidak ada lagi. Bagaimana dia melakukan penghiantan, itu karena eginya dan kerja samanya dengan setan yang tengah membelenggu.
Serius, aku tidak ingin dia seperti ini, aku hanya ingin dia menerima aku apa adanya, seperti halnya aku yang telah menerima dia apa adanya.
Seius, aku tidak ingin kejadian ini kembali terulang dalam kehidupanku. Aku lelah dengan penantian yang panjang, aku lelah dengan penghianatan yang terus menghantui. Aku lelah dengan semua hal yang tidak penting. Karena itulah kini aku merasa berada dalam titik terendah.
Titik terendah, dimana kamu bisa dengan leluasa meludahiku, memakiku, menerjangku, dan menghinaku. Lakukan saja sepuasnya, aku tak mau tahu.
Kini, di titik terendah, aku memiliki seseorang yang bagiku sangat berarti. Dia adalah penggantimu, bukan hanya pengganti, tapi pendampingku, dan aku rasa aku ingin selalu bersamanya. Tak ada sedikitpun keraguan saat aku memilihnya.
Kini, di titik terendah, aku ingin kembali bangkit, tak lagi peduli padamu. Bukan karena aku dengan mudah membuang kisah kita, tapi justru aku sulit melupakan kenangan kita. Aku ingin berlari, meninggalkan kenangan itu, karena aku yakin kau pun tak lagi peduli padaku.
Ku harap kamu segera mendapat seseorang yang sangat mencintai kamu, dan aku mohon jangan lagi sia-siakan dia. Jangan lagi sakiti orang lain yang tulus mencintaimu. Mungkin cukup aku saja yang mendapatkan perlakuan ini darimu, aku harap tidak ada lagi yang lain.
Kini, biarkan aku berjalan dengan seseorang yang aku pilih, dengan seseorang yang kamu kenal, dengan seseorang yang telah mencuri perhatianku jauh sebelum kita berpisah,
Tidak, dia tidak merebutku dari kamu. Dia pun tidak bersalah, karena aku yang bersalah pada hubungan kita dulu. Aku terlalu memaksakan diri untuk melanjutkan hubungan kita kala itu, padahal sudah gtidak ada lagi rasa untukmu, dan kamu mengenalkan aku padanya.
Tidak, dia tidak menghianati persahabatan kalian. Dia hanya manusia biasa yang hanya mengalir mengikuti keinginan Tuhan. Atas ijin Tuhan, ternyata aku dan dia saling memendam rasa sejak pertama kenal. Atas ijin Tuhan pula kami bersatu.
Maafkan kami jika memang ini membuatmu terluka. Namun, ingatkah kamu akan luka yang kamu berikan padaku? Itu jauh lebih kejam.
Tidak, aku tidka ingin membalas perlakuanmu dengan memanfaatkan kekasihku ini. Sungguh aku tidak ada niat buruk seperti itu. Aku pun hanya manusia biasa, yang mengikuti keinginan Tuhan.
Dan atas ijin Tuhan pula, aku sanggup mencintai dan menyayanginya meski tak selalu sempurna.
Titik terendah ini menyadarkan aku akan cintaku pada 'AV'. Menyadarkan aku bahwa hidup bukan untuk bermain dan melupakan sekitar.
Just for 'SS', now, i love 'AV'. You, my memories...
GBU for you...

Jumat, 27 Januari 2012

Adakah Aku Di Hatimu?

Sayang, coba kau renungi...
Coba kau dengarkan apa yang hatimu katakan...
Coba lihat siapa yang ada dalam hatimu?
Apakah kau mendengar namaku disebut?
Apakah kau melihat sosokku di hatimu?
Adakah aku di hatimu, Sayang?
Sungguh, hati ini trelanjur memilih kamu, dan aku tidak ingin kembali tersakiti, kecewa, dan terkhianati. Kau tau bagaimana kisahku yang terdahulu. Kau tau bagaimana aku menangis dan membenci ia karena penghianatannya. Kini aku tidak kingin kau melakukan kesalahan yang sama.
Aku adalah perempuan rapuh, lebih rapuh dari yang kau bayangkan. Bahkan serapuh-rapuhnya aku, ternyata aku masih jauh lebih rapuh dari dugaanku. Aku hanya ingin kau tahu, bahwa hati ini masih dan selalu memilihmu.
Kasih, tidakkah kau ingin melihatku bahagia karena bersanding denganmu? Tidakkah kau ingin aku bangga karena memiliki hatimu? Tidakkah kau ingin melihatku menangis terharu karena perubahan sifatmu?
Kasih, aku menerimamu apa adanya, maka ku mohon, terima lah aku apa adanya. 
Kasih, aku berusaha memahami sikap dan sifatmu, maka ku mohon, pahami sikap dan sifatku.
Kasih, aku ingin kita akan bersama selamanya dalam ikatan yang sebenarnya, tidakkah kau menginginkan hal yang sama?
Kasih, mengertikah kau akan rindu yang menyiksa batin?
Kasih, tidakkah kamu mengerti betapa aku selalu menginginkan suaramu?
Sekali ini, aku mohon, mengertilah, kasih...
Aku tidak lagi ingin kehilangan kamu...
Sekali ini, aku mohon, marilah kita saling memahami...
Jangan lagi sakiti aku tanpa sadarmu...
Aku tidak ingin perbedaan itu mengakhiri kisah kita...
Coba ku pahami, apa arti hubungan ini untukmu?
Tak mungkin jika kau hanya ingin bermain saja, aku pun begitu...
Sayang, tetaplah di hatiku, selamanya...
:)
Luv 'AV'
Sebentuk Hati Buat Kekasih...


Kamis, 26 Januari 2012

Ucapan Yang Tak Tersampaikan

Sejak pagi aku merasa berdebar-debar. Entah kenapa. Aku memikirkannya hingga hampir sehari penuh. Ku pikir hanya karena terlalu lelah sehingga fungsi kerja jantungku meningkat. Tapi setelah aku istirahat dan masih tetap merasakan debaran itu, aku kembali berpikir, dna akhirnya aku tahu penyebabnya... Mantanku, seseorang yang pernah mengisi sekaligus menyakiti hati ini, sedang berulang tahun. Ulang tahun yang ke-20.
Sungguh aku ingin mengucapkan, "Selamat ulang tahun yaaa... Semoga selalu dalam lindungan ALLAH.". tapi itu gak mungkin. Karena tidak ada satupun alamat email dan nomornya yang aku simpan. Ini juga karena permintaannya sendiri beberapa waktu yang lalu.
Jujur saja, aku rindu padanya. Hanya sebatas rindu, tidak lebih. Aku tidak lagi berharap kembali padanya, karena aku telah memiliki hati yang lain. Karena ia pun tidak menghiraukan aku lagi.
Aku suka dengan senyumnya, tapi aku juga benci dengan senyumnya. Karena aku selalu ingat bagaimana senyumnya dan itu membuat aku merasa rindu dan sesak dada.
Tuhan, jaga ia dan sekitarnya...
Tuhan, jadikan ia berdampingan dengan orang yang dia sayang...
Tuhan, sampaikan ucapan selamat dariku...
Tuhan, jadikan ia bermimpi indah hari ini dan seterusnya...
Amin...
:)
"Happy B'day My De Ja Vu..."
Maafkan kesalahanku...


Curhat Dadakan Part 1

Beberapa hari ini adalah tantangan untuk aku pribadi. Tantangan menahan emosi lebih jauh. Sungguh, aku gak bohong, ini benar-benar melelahkan!!!
rasanya ingin berteriak sekeras mungkin, menangis sepuas mungkin, dan marah semarah-marahnya. Sayang, itu hanya keinginan semu. Aku hanya bisa menahan emosi dan selalu ingat pada Tuhan, karena aku tidak ingin emosi yang tengah menggeluti hati ini merusak segalanya.
Hal ini menjadikan aku semakin rindu akan belaian bapak. Bapak yang menahan amarahku, melindungiku dari segala hal, dan selalu berusaha membuatku merasa nyaman. Aku rindu beliau. Rindu sekali.
Saat ini aku tidak memiliki siapa pun. Keluargaku sibuk dengan urusan yang 'lebih penting', pacarku selalu saja 'menghilang', dan teman-temanku memiliki kesibukan sendiri, tidak mungkin aku selalu mengganggu mereka dengan curhatanku.
Tuhan, aku harus bagaimana lagi untuk menahan emosi ini?
Tuhan, tegarkan aku, karena hanya Kau lah yang mampu...
Tuhan, jadikan hati ini selalu berpikiran positif...
Tuhan, hati dan masalah ini semua milikMu...
Rasanya kepala ini sudah tidak sanggup menampung beban, untung saja hati dengan sabar mau menopang. Mungkin benar apa kata hati, Lebih baik diam dan terus bergerak saja, daripada bicara dan menimbulkan masalah baru. semoga saja ini semua cepat berakhir. Aku lelah dengan kejadian ini.
Tidak hanya lelah, tapi sangat lelah...
Semoga 'kalian' cepat sadar akan kondisiku saat ini...
to : my fam n my sun
Love You ALL...

Kamis, 06 Oktober 2011

CINTA SEDERHANA

Kau terlihat berbeda dengan yang lain. Begitulah penilaian pertamaku ketika melihat penampilanmu. Ku lihat kau datang dengan sederhana di tengah mereka yang berbusana tuxedo dengan bangga. Ku lihat kau tak memakai sepatu mahal seperti mereka yang mungkin memesan sepatu produk luar negeri dengan kualitas asli.
Kau terlihat lebih tampan. Begitulah penilaian keduaku ketika mata ini melihat wajahmu. Aura ketampanan murni terpancar di bawah sinar bulan purnama. Tampak sempurna dengan senyuman manismu. Sorot mata yang meluluhtantahkan hati ini. Yang seakan-akan memberikan sengatan listrik teraneh ke jantungku. Membuatku merasakan indahnya panah amore. Hanya mampu ku pandangi keindahanmu.
Kau terlihat santun pada lawanmu. Begitu penilaian ketigaku ketika meihat polamu. Ku lihat kau dengan santai menghadapi lawan bicara, menatap mata mereka seakan menantang tapi juga menunjukkan sikap hormat. Anggun tapi maskulin, begitulah kau. Di balik kemeja sederhana menunjukkan kemampuan istimewa.
Ku rasa cukup tiga saja penilaianku terhadapmu. Seketika ku putuskan untuk mendekatimu. Ingin mengenalmu lebih dalam. Langkah ini terasa sangat jauh untuk mencapai tempatmu, karena aku merasa kecil dan tak bernilai ketika di hadapanmu. Dan aku malu untuk mengakuinya. Selangkah demi selangkah aku jalani. Semakin dekat denganmu semakin debar jantung ini melaju.
“Hai.” Sebuah awal yang sangat klasik. Namun hanya itu kata yang keluar dari mulutku, seakan semua kosakata yang aku miliki terhisap oleh bumi dan hanya itu yang tersisa. Kau tersenyum, membuatku semakin kehilangan kendali.
Selanjutnya, kau lah pemegang arah, penentu arah, dan aku mengikuti kemanapun arahmu berjalan. Seakan apa yang kau katakan adalah apa yang ingin aku katakan. Aku merasakan sebuah dé ja vu. Kita pun semakin melangkah jauh. Tak peduli apa kata mereka yang sepertinya iri dengan kedekatan kita.
Semua berjalan dengan lancar. Aku mencintaimu dengan sederhana, kau pun demikian. Di balik kesederhanaan itu kita menemukan kasih sayang yang teramat kaya, sebuah kehidupan dengan janji bahagia abadi.
Aku suka dengan caramu mencintaiku. Dengan segala perhatian kecilmu, tingkahmu yang lucu, dan sebuah aktifitas yang tak pernah aku duga sebelumnya, yang jarang sekali tersentuh oleh orang sukses sepertimu.
Mencintaiku selayaknya mencintai kebudayaan. Begitu katamu padaku suatu hari saat kita sedang menikmati masa di pinggir pantai berlatar matahari terbenam. Kau begitu mencintai budayamu. Aku tak merasa cemburu dengan cintamu yang terbagi, aku justru mendukung apa yang kau cinta. Karena bagiku ini adalah cinta yang unik.
Kau bermain bersama mereka dengan cinta, dengan hati. Kau menyentuh mereka dengan kasih, dengan sayang. Aku melihat sisi lainmu. Sisi lembut dari seorang laki-laki. Tak akan ada yang percaya jika kau adalah pemain karawitan di desamu sementara di kota kau adalah pengusaha kaya dan terkenal. Aku bangga dengan itu semua. Tak banyak yang tahu hal ini.
Kagum itu tumbuh menjadi cinta. Cinta itu berkembang menjadi ego tuk memiliki. Tak pernah terpikir olehku untuk mendapatkan cinta itu, mengisi ruang kosong di hatimu. Aku bahagia dan semakin bahagia dengan ucapan cinta mengalun dari mulutmu. Seperti mimpi di siang bolong. Namun aku nikmati itu semua.
Ingin selamanya seperti ini, merasakan kepakan sayap cinta dan angin semilir sayang yang tak pernah berakhir. Aku tak ingin berbagi ini dengan makhluk hawa yang lain. Biarlah mereka merasa iri terhadap apa yang aku miliki. Aku hanya membutuhkan rasa ini setelah sekian lama aku terpuruk dalam keadaan mati rasa. Mati rasa terhadap cinta dan kepercayaan pada orang lain. Dan hanya kau yang sanggup membuka mata hati ini, kau lah kunci dari kebahagiaan yang tersimpan di dalam sepi sedih selama ini. Tak akan aku biarkan yang lain menyakiti hatimu, tak akan ku biarkan mereka mengambilmu dariku.
Ku serahkan hidup dan cinta ini seutuhnya hanya untukmu. Untuk semua keunikan yang kau miliki, untuk semua persembahan hatimu padaku. Terima kasih, malaikat kecilku. Dengan kau lah aku tersenyum bahagia. Dengan kau lah aku mengarungi gelombang kehidupan. Dengan kau lah aku bertahan saat menahan terpaan badai. Dengan kau lah aku menopangkan jiwa ini saat aku limbung.


Untuk dia yang selalu ada dalam hati ini.

16 September 2011

Kamis, 15 September 2011

Percakapan Di Atas Jembatan


Saat mata beradu, aku bertanya, 
“Adakah yang lain di balik sinar itu?”

Sahabat menjawab, 
“Coba saja kau selami.”

Saat mulut terkunci, hanya hati yang berbicara pada jiwa, aku bertanya, 
“Apa yang tengah kau rasakan?”

Sahabat menjawab, 
“Coba saja kau rasakan.”

Saat tangan tak mampu menjangkau walau jarak sedekat mata dan mulut, aku bertanya, 
“Mampukah kita bersama saat hati masing-masing terluka?”

Sahabat  menjawab, “Kita jalani saja.”

Saat bulan dan bintang bercakap seperti kita, aku bertanya, 
“Apakah pertemuan ini akan segera berakhir?”

Sahabat menjawab, 
“Kita lihat saja nanti.”

Terkadang jembatan ini menjadi terasa panjang namun terkadang terasa sangat pendek.
Dan aku bertanya, 
“Apakah ujung dari jembatan ini?”

Sahabat menjawab, “Aku pun tak mengerti.”

Aku terdiam, sahabat pun demikian....

Hanya angin, bulan, bintang, jembatan, dan kenangan yang menyelimuti....

Hingga kini....

Saat aku dan sahabat tak lagi berdekatan....

Saat aku dan sahabat tak lagi saling bercakap....

Aku mengulang pertanyaanku berkali-kali, dan ku ulang jawabannya berkali-kali....

Berharap akan ada keajaiban yang datang bersama jawaban pasti....

Sahabat, bilakah kau kembali menjadi penerang hati ini?