Rabu, 04 April 2012

Aku Yang (Masih) Menanti

Kasih, aku hanya ingin kau ada untukku. Bukan setiap waktu, setiap detik bahkan sampai kau melupakan apa yang menjadi kewajibanmu. Aku hanya ingin saat aku jatuh, saat aku ragu, saat aku limbung, kau ada untukku. Meski pertemuan fisik bukanlah keabadian, namun hati yang selalu siap mendengarkan dengan sepasang telinga adalah hal sederhana yang aku impikan darimu. Apakah salah jika aku menginginkan kamu sebagai tempat bersandarku?
Cinta, aku ingin kau menoleh padaku yang tersakiti tanpa sadarmu. Kesakitan karena sifatmu yang tak peduli padaku, seakan-akan aku adalah barang yang kapan saja bisa kau lihat namun selalu hilang dari pandangmu. Aku adalah barang tak pantas mendapatkan perawatan darimu, kau tak peduli apakah aku masih sedap dipandang atau telah usang dengan debu yang tebal.
Sayang, kebahagiaan yang kau berikan untukku sangatlah sederhana. Dengan perhatian kecilmu saja itu telah mampu menerbangkan aku hingga langit ke tujuh, atau mungkin lebih, maka beri aku sedikit saja perhatianmu, maka cinta ini akan subur dan berkembang biak. Hanya itu, hanya itu yang menjadi inginku. Tak dapatkah kau melakukannya untukku? Tak inginkah kau berbuat sesuatu untuk membahagiakan aku?
Tak pernahkah kau merasa takut kehilangan aku? Jika memang pernah kau merasakan hal itu, maka rawatlah aku dengan sewajarnya, berikan cinta dan kasihmu dengan sederhana. Maka akan subur cinta ini yang nantinya akan kupersembahkan untukmu.
Kini aku hanya bisa menyangka bahwa beginilah caramu mencintai aku. Sebisa mungkin aku akan terus berusaha memahamimu. Entah sampai dimana batas kesabaranku, yang aku harap tak akan pernah habis hingga aku menuai hasilnya.
Jika kau meminta aku untuk mundur, pergi, dan menghilang, maka itu tak akan pernah aku lakukan karena aku yang telah memilihmu, maka aku akan terus maju, menantang sifatmu, dan terus berada di sampingmu. Meski aku harus menyiapkan hati sekeras baja untuk menahan kesakitan itu.
Beginilah aku, jika memilih tak akan pernah aku lepas. Aku berdoa pada Tuhan, semoga kelak kau menoleh padaku, meraih tanganku, dan mengucapkan pada dunia bahwa kau mencintai aku. 

Senin, 02 April 2012

Sebotol Juice VS Segelas Air Putih

Memahamimu adalah kegiatan sehari-hariku. Terbuang dari duniamu bukan hal baru bagiku. Semua yang kamu lakukan untukku kuterima dengan hati lapang. Bukan tanpa alasan, bukan karena mataku tertutup oleh cinta buta seperti kata orang, namun karena aku sayang padamu, aku tak ingin lagi kehilangan kamu seperti dulu saat aku melepasmu karena keegoisanku hingga akhirnya aku tersiksa oleh rasa rindu yang luar biasa di dada. Tak mampu aku utarakan karena aku tak ingin mengganggumu bersama dia yang mungkin telah menggantikan posisiku.
Ternyata Tuhan telah berbaik hati padaku, memberikan aku kesempatan untuk mengenalmu dan memahamimu. Maka kini aku tak lagi terbakar oleh emosi yang menggebu-gebu. Kini aku telah menaklukkan amarah yang tak pasti. Aku pun tersenyum dengan tingkahmu. Tak lagi terkejut dengan sifat acuh tak acuhmu.
Kamu adalah lelakiku, yang seharusnya menjadi tempat aku bersandar. Seperti katamu saat aku bertanya, "Jika aku menjadi bintang, kamu mau menjadi apa?" dengan jawabanmu, "Jadi langitnya, biar selalu ada untuk kamu."
Sungguh aku ingin sekali menagih kalimatmu saat aku terjatuh dan butuh kamu untuk menguatkan aku, menyembuhkan aku dari luka itu. Namun, kesibukanmu yang luar biasa memaksaku untuk berjalan tertatih tanpa bantuanmu. Aku masih sanggup berjalan dengan satu kaki, tapi entahlah esok.
Sayang, aku ingin berada di kotamu, saat kamu sibuk dengan kegiatan. Aku tahu, waktumu tak banyak untuk sedikit saja memerhatikan aku. Jangankan memerhatikan aku, menjaga kesehatanmu saja aku yakin kamu masih kelimpungan. Jam makanmu berantakan, waktu belajarmu lebih sedikit dari waktu istirahatmu. Tak tega jika aku membayangkan keletihan di wajahmu.
Aku hanya bisa berkhayal, saat aku berada di kotamu, melihatmu letih karena kegiatan yang tak kunjung usai, aku datang dengan sekotak bekal. Di dalamnya ada menu sederhana, nasi putih dengan lauk sayur bayam -karena aku ingin kamu penuh tenaga seperti Popeye, menaklukkan segudang kegiatanmu- dan tempe goreng atau ikan goreng -karena aku tak pandai memasak. Juga segelas air putih -untuk penghilang dahagamu- dan sebotol apple juice -untuk pelengkap di antara juice favoritemu.
Antara apple juice dan air putih. Begitulah antara aku dan kegiatanmu. Aku adalah pelengkap dari kehidupanmu, sementara kegiatanmu adalah penghilang dahagamu yang selalu kamu butuhkan. Seperti hakikatnya air putih, merupakan kebutuhan pokok bagi semua makhluk hidup, begitulah bagimu sebiah kegiatan yang menguras tenaga. Sementara aku hanyalah sebotol juice yang mungkin kamu sukai namun bukan menjadi kebutuhanmu.
Tidak, aku tidak ingin memojokkanmu dengan menyalahkanmu karena kegiatanmu yang segudang sehingga menelantarkan aku. Aku telah berusaha dengan baik untuk memahami kamu. Meski terkadang aku tak sanggup menahan emosi di hati.
Aku memang bukanlah yang pertama bagimu, begitu pula denganmu, memang bukan yang pertama untukku. Namun biarlah aku memilihmu untuk menjadi yang terakhir untukku. Meski aku hanya akan menjadi apple juice bagimu. Setidaknya itu membuatmu tersenyum karena kesejukan yang aku berikan. Aku berharap akan menjadi sebotol apple juice yang mampu menghapus dahagamu, memberi kesejukan, dan memberikan vitamin bernama 'semangat' untukmu.
Meski aku terkadang iri dengan air putih yang hanya segelas saja telah mampu membuatmu melupakan aku. Meski tak jarang aku menangis sedih karena sikapmu. Seakan aku masih bertanya, apakah aku adalah sebotol juice yang kamu harapkan. Apakah aku perempuan bayanganmu saja ataukah lebih?
Kupilih kamu dengan hati, maka pilihlah aku dengan hatimu, bukan dengan instingmu. Jika kamu memang memilih aku, maka lihatlah aku. Aku butuh kamu untuk membantuku menyuburkan cinta ini. Hubungan ini adalah kita, bukan aku atau kamu. Sekali saja, coba rasakan apa yang aku rasakan ketika kamu menghilang tanpa sedikitpun respon untukku karena urusanmu.
Biarkan aku tetap menjadi juice bagimu karena aku tak akan bisa menjadi air putih bagimu selama kamu tak pernah mau mengerti akan rasa ini.

Kamis, 22 Maret 2012

Sisi Lainmu

Lama kita tak jumpa, kusempatkan untuk datang ke tempat perantauanmu meski awalnya aku tak yakin dapat bertemu denganmu karena aku tahu bagaimana sibuknya kamu. Namun teman kita yang super baik hati telah mempertemukan kita. Aku sungguh berterima kasih padanya.
Pertama kali aku lihat kamu datang, dengan dandanan yang berantakan; rambut panjang, gak disisir, mata masih bengkak bekas bangun tidur, belum mandi, dna wajah yang juga masih kumus-kumus. Serius aku nelangsa banget ngeliat keadaan kamu yang gak terawat kayak gitu. Tapi aku sedikit bersyukur karena setidaknya kamu masih sehat, dan sedikit lebih gemuk.
Kenapa aku sering bilang kamu kurusan padahal aku juga sadar kamu gemuk? Karena aku pengen negur kamu yang kelewat sibuk dengan acara organisasi, rapat sana rapat sini, aku pengen kamu inget kalo aku bilang kamu kurusan biar gak lupa makan. Aku gak mau kamu sakit. Aku akan selalu mendukung apapun yang kamu mau, asal itu adalah baik. Sama seperti ucapmu, "Aku kan selalu dukung sayank..." (^.^)
Ada banyak hal yang menjadikan aku semakin sayang dan percaya ma kamu setelah aku sehari di sana. Mendekapmu di tengahnya malam, memberi kehangatan tersendiri buat aku. Jujur, aku tak pernah sebahagia dan selepas ini.
Dulu, aku memang memiliki seorang kekasih yang sangat aku sayang. Tapi serius, aku memupuk sayang untuk dia karena terpaksa, tak pernah aku sedamai ini saat bersamamu. Aku memupuk rasa sayang padamu memang karena keinginanku, aku memilih kamu karena aku benar-benar percaya dan mendengar kata hatiku yang memilih kamu.
Malam itu, malam yang indah untuk aku, serba terkejut dengan respon dan sikapmu. Kamu genggam tanganku seolah tau aku memang kedinginan menahan angin malam yang gak wajar, merespon keinginanku di masa depan, dan semua hal yang semakin membuat aku hanyut dalam cintamu.
Di ujung pertemuan kita, kulihat satu bintang di langit dengan latar kemerahan di awan.
"Yank, itu bintang..." kataku sambil menunjuk satu-satunya bintang di langit, mengalihkan pembicaraan kita.
"Iya, dia lihat kita." Jawabmu seraya tersenyum padaku.
Sungguh, aku merasa sangat nyaman berada di sampingmu. Biarpun kata mereka kamu adalah sosok laki-laki yang tidak peka, tapi aku suka. Biarpun mereka merasa aneh dengan sifatmu yang aku terima dengan senang hati, aku tak peduli. Aku suka kamu yang apa adanya. Aku selalu suka dengan caramu mencintai aku.
Aku melihat sisi lainmu. Aku semakin sayang padamu. Aku semakin hanyut dalam pusaran kasihmu. Tak lagi ada ragu padamu. Sepenuhnya aku percaya padamu, kamu adalah yang mampu selalu membahagiakan aku....
Kasih, percayakan cinta dan kasihmu padaku juga...
Kan aku jaga itu untuk masa depan kita...
Love you, AV...

Senin, 27 Februari 2012

Pindah Dimensi

Ada saja yang membuat kita terasa jauh. Meski kita telah sadar bahwa jarak memanglah pemisah raga, namun komunikasi yang tidak lancar menjadikan jarak itu semakin terasa jauh. Rasa rindu yang terpendam semakin menumpuk dan terus menumpuk, membuat dada ini penuh dan sesak.
Ingin rasanya aku pindah dimensi, dimana aku dengan leluasa mampu menggapai keberadaanmu. Selalu berada di sampingmu tanpa takut terpisah lagi. Dimensi yang melekat pada jiwa kita masing-masing namun menyatu dalam ikatan yang diperkenankan oleh Tuhan.
Kucoba untuk selalu bertahan dengan kondisi kita, karena kuyakin akan jalan yang Tuhan berikan. Aku yakin padamu, aku percaya kau tak akan khianati aku. Aku yakin seyakin-yakinnya. Tak pernah aku seyakin ini sebelumnya.
Andai saja menciptakan dimensi itu untuk kita, betapa bahagianya aku....
Tuhan, kabulkanlah doaku...
Amin...

Sabtu, 18 Februari 2012

Merindu Pada Kehilangan

Hatiku terluka tanpa aku rasakan. Hatiku merasakan kesakitan yang tak berujung, menjadikan jiwaku sepi dari tawa yang biasa kuberikan padamu.
Cinta yang aku tanam berbuah pedih, cinta yang kusiram dengan kasih sayang bertunas tangis. Memiliki kamu adalah hal yang tak pernah aku bayangkan meski cinta telah ada sejak aku masih bersamanya. Bermimpi denganmu adalah hal yang aku inginkan meski aku tahu kamu tak memiliki keinginan yang sama. Ini menjadikan aku rindu pada sebuah kehilangan.
Mungkin aku tercipta untuk selalu merasakan kepedihan, bukan kebahagiaan. Kasih, hanya kamu lah yang sanggup membuat aku tersenyum penuh makna. Tak pernahkah kamu merindukan aku? Tak pernahkah kamu ingin selalu bersamaku?
Tinggalkan saja sebentar tentang kewajibanmu, datanglah padaku, menghabiskan waktu bersamaku. Sehari saja, itu sudah sangat berharga bagiku. Tak bisakah kamu lakukan itu demi aku?
Aku tak memintamu mati untukku, aku pun tak meminta kamu untuk merangkak di bawah kesantunan. Maafkan aku jika aku memang meminta banyak hal padamu. Namun bagiku itu adalah hal yang wajar. Aku hanya meminta waktu sehari saja untukku, meninggalkan kewajiban yang membelenggu.
Kuingin habiskan waktu bersamamu, menikmati matahari terbit hingga matahari tenggelam dengan senyuman. Kuingin memelukmu, menghirup aroma tubuhmu, dan menyimpannya dalam memoriku. Kuingin kita selalu dalam lingkaran cinta yang membahagiakan, rasa yang tak tergerus oleh waktu ataupun jaman.
Kasih, aku ini bukan barang yang bisa kamu geletakkan begitu saja, yang tak membutuhkan perhatianmu dan rusak karena tak terawat. Aku ini manusia, yang memiliki hati dan perasaan, aku butuh kasihmu, untuk merawat cinta yang aku tanam. Berikan kasihmu padaku, curahkan padaku, tak perlu kamu ragu, karena aku telah mencurahkan kasihku padamu, kuberusaha untuk selalu memahami sifatmu.
Jangan jadikan aku semakin liar pada rasa merindu kehilangan. Jangan jadikan aku merasa terpuruk pada asa yang tak kunjung datang. Jangan jadikan aku hilang bersama angan yang terbentuk jauh sebelum kau datang.
Sekali lagi, kuingin waktumu walau hanya sehari saja, bukan seluruh waktumu untuk aku karena aku tahu porsi yang menjadi hakku.

Rabu, 15 Februari 2012

Curhat Dadakan Part 2

Ya ampuuuuuuunn, serius hari ini ada banyak emosi yang membuat aku tak mampu lagi menahannya. Pagi, mengawali hari, aku dengar kabar hamster kesayanganku sekarat. Udah aku bilang, makannya diganti2, diajak main, airnya tambah madu dikit. Apa sih susahnya beli madu sebentar, yang sachet'an, udah gitu tuang dikit, beres kan. Ini malah ditinggal. Malah marah-marah katanya aku yang gak tahu kesibukan orang. Malem baru bilangnya. Lha dari tadi pagi saya pesen itu nggak didengar?? Oke, awas aja kalo situ yang butuh saya, sesibuk apapun saya, sesantainya saya pun, mikir-mikir buat bantu situ..!!!
Nyebar undangan aja ruwet. Apalagi yang harus aku lakukan?? Dibantu udah, masih aja gak dianggap. Emang semua orang yang sibuk gitu tah yaaaaa?? Kayak'e aku ndak gitu deeeehh... Sebisaku aku ada, kalo emang masih sibuk ya ngasi kabar, minta maaf kalo miisal ada kata ada yang bikin sakit hati atau tersinggung.
Belum cukup itu, akhir-akhir ini aku disibukkan dengan kumcer yang menjadi lomba, persiapan penelitian yang masih nol, dan beragam tugas kuliah. Rasanya emosiku berada di ujung.
Belum cukup lagi, sudah seminggu lebih aku dan dia tanpa komunikasi. Sekalipun ada komunikasi, selalu saja berujung kecewa. Dia terkesan menghindari aku. Beragam pikiran negatif ada dalam otakku, menambah beban batin. Emosi lagi-lagi tak terkuak.
Berhari-hari menahan emosi membuatku muak. Serius, kalo ada tong sampah yang nampung emosi, mungkin hari ini adalah jadwalku untuk membuang isi tong ke tempat pembuangan emosi terakhir.
butuh sehari tiga kali aku membuang isi tong emosi itu kalo keadaannya kayak gini. Serius aku ndak kuat. Marah ma dia juga ndak mungkin. Dia bilang hari ini ada acara organisasi, jadi dibela-belain pulang dari kota asal ke tempat perantauan jauh sebelum masa kuliah aktif untuk acara itu, Lhaaa kok malah hari H on line!! Dichating juga ndak ada respon, dicolek ndak ngerespon, apdet status dikomen juga ndak respon. Ini maunya gimanaaaaaaaa???????
Tak bela-belain hapeku rusak gara-gara bolak balik buka batre, buat ganti kartu (aku dan dia beda operator) malah balasannya seperti ini. Gak ada respon sedikit pun.
MALEEEEEEESSSSSSSSSSSSSS....!!!!!!!!!
Emang harus selalu aku ya yang berusaha mengerti orang lain?? Kenapa ndak orang lain yang berusaha mengerti saya?? Emang saya ini malaikat?? Yang bisa selalu menahan emosi?? Yang bisa dengan mudah diperlakukan bagaimana pun dan memaafkan secepat berkedip???
BUKAN, SAYA BUKAN MALAIKAT..!!!
Perlu kalian sadari, hati-hati dengan emosi saya, jangan menumpuk emosi saya dengan emosi yang lain, jika saya meledak, saya bisa saja tidak peduli pada sekitar.
Saya pun punya perasaan dan keinginan. Saya pun ingin diperhatian dan dimengerti. Bukan hanya memerhatikan dan mengerti orang lain.

Selasa, 14 Februari 2012

Bukan Valentine

Hari ini, hampir semua orang membicarakan masalah Valentine's day. Ada yang pro ada yang kontra. Semua memiliki alasan masing-masing. Mulai dari yang pro, dengan alasan hanya untuk senang-senang sampai alasan untuk mencurahkan semua kasih sayang pada pasangan. Yang kontra dengan alasan itu adalah perayaan umat Nasrani sampai versi cerita lainnya yang bagiku mengerikan.
Menurut pengetahuan yang aku miliki, Valentine's day adalah hari pembantaian sebuah keluarga. Mengerikan sekali. Namun apapun alasan mereka, baik yang pro ataupun yang kontra, aku tak masalah. Bagiku itu adalah hak masing-masing. Setiap orang memiliki jalan pikiran sendiri, kita tidak bisa memaksakan apa yang kita mau pada orang lain.
Hari ini, tepat pada Valentine day, yang ada dalam pikiranku bukanlah valentine melainkan tepat bulan kedua hubunganku dengan dia. Andai saja aku mendapatkan perlakuan yang sedikit istimewa darinya, mungkin aku akan merasakan bahagia, setelah berhari-hari tanpa kegiatan saling komunikasi. Namun yang aku dapatkan adalah rasa curiga, kecewa, marah, lelah, dan akhirnya hanya mengelus dada.
Kuserahkan seluruh masalah ini pada Tuhan, Dia yang Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Aku curiga apakah kamu sengaja menghindari aku dengan alasan handphonemu rusak, entah itu benar atau tidak, aku hanya bisa percaya padamu. Kecewa karena setiap kali aku menghubungimu, tidak ada semangat sedikitpun yang aku dengar, seolah kamu sedang berbicara dengan penagih utang. Marah karena berkali-kali kamu menghindari pertemuan denganku, dengan satu alasan, sibuk. Lelah karena aku merasa sia-sia telah berusaha mengerti kamu.
Ingin aku bebas dari rasa itu, namun aku harus bagaimana? Apakah putus adalah pilihan? Tidak, sudah kukatakan, aku tidak ingin kita berpisah. Aku hanya ingin kita saling memahami. Saling mengerti dengan posisi masing-masing.
Apakah aku terlalu buruk untuk kau sayang dengan sepenuh hati? Apakah lukamu sedemikian dalam hingga kau tak ingin orang lain menyentuh hatimu? Namun lebih dalam siapa luka antara kita? Kau tahu bagaimana kisahku, namun aku tidak tahu bagaimana kisahmu.
Apakah pengertian yang aku berikan padamu masih saja kurang? Aku tahu, kamu adalah pemuja sahabat, tapi apakah posisiku tidak bisa lebih tinggi sedikit dari mereka hingga aku bisa mendapatkan sedikit perhatian istimewa
darimu sebagai lelakiku?
Apakah aku harus membalas kelakuanmu? Tak peduli padamu walau kamu adalah lelakiku? Mungkin aku bisa seperti itu, tapi ada banyak hal yang ingin aku sampaikan padamu, hingga membuatku selalu ingin menghubungimu.
Entah hingga berapa hari kamu akan seperti ini, sebulankah? Akan aku turuti kemauanmu. Sebisaku, mulai besok, tak akan aku hubungi dirimu. Aku ingin tahu, apakah kamu merasa kehilangan aku atau tidak.
Aku ingin tahu, apakah aku ada di hatimu atau tidak.
Kasih, jangan salahkan aku jika aku berpindah ke lain hati walau aku tak ingin itu terjadi. Aku hanya perempuan biasa yang memiliki hati. Aku adalah perempuan biasa yang juga ingin dicinta, dimanja, dan disayang. Aku bukan perempuan tegar tanpa sedikitpun kasih sayang.
Kelak kau akan sadar bahwa sejak awal kau telah menyakiti aku. Kelak kau akan sadar, betapa aku sayang padamu, hingga aku bertahan pada batas wajar.
Kasih, semoga kau di sana mampu menjaga kepercayaan yang aku miliki. Aku akan berusaha untuk selalu menjaga hati. Jangan jadikan pengorbananku sia-sia dan kau juga meninggalkan luka dalam bagiku. Benar kata orang jika cinta itu memang rumit, untuk memahaminya tak hanya butuh waktu satu dua hari saja. Butuh waktu yang lama untuk menciptakan cinta yang kuat. Semoga kita bisa mendapatkan cinta yang kokoh itu, Sayang... Amin...
Kasih, hari ini bukan valentine yang kita rayakan, melainkan hari jadi kita. Semoga saja kita selalu abadi dalam hubungan yang semakin lebih baik, amin....
Aku sayang padamu, 'AV'
 

Senin, 13 Februari 2012

Aku Yakin Padamu

Meski kau telah menghilang sekian lama dari peredaranku, ketika kudengar suaramu, rasa kesal di dada hilang seketika. Perhatian yang kau berikan padaku adalah semangat yang luar biasa bagiku. Rasa marah yang tertimbun jauh dalam hati seketika melumer dengan hangatnya ucapanmu.
Aku lupa kemarin telah menangis karena lelah memahami sifatmu. Aku lupa kemarin telah ragu untuk melanjutkan hubungan kita. Aku lupa kemarin telah hanyut dengan keinginan untuk mencari yang lain. Sungguh aku melupakan kesalahn besarmu beberapa hari terakhir.
Sayang, tahukah bahwa hati ini tak akan pernah bisa mendua. Aku bukan lah perempuan yang gampang mencari pengganti. Yakinlah bahwa aku sayang padamu.
Sayang, tahukah kamu, bahwa aku sangat menyukai caramu bercakap denganku. Mengingatkan jadwal makan, marah kecil karena aku belum makan, dan sejumlah tindakanmu yang membuatku tersenyum geli.
Sayang, tahukah kamu, bahwa aku ingin memilikimu seutuhnya, tanpa celah. Karena aku ingin kau percaya padaku, berikan hatimu untukku, Sayang...

Aku yakin padamu...
Pada cintamu...
Kucoba untuk selalu percaya pada hati
Tak akan ada yang sia-sia
Karena itulah aku bertahan
Karena itulah aku di sini
Selamanya hati ini akan memahamimu
Karena aku yakin padamu
Kan kau balas cinta ini dengan senyuman
Ketika aku jatuh dan tak berdaya
Ku harap kau lah penopangku
Karena aku yakin padamu....