Kasih, aku hanya ingin kau ada untukku. Bukan setiap waktu, setiap detik bahkan sampai kau melupakan apa yang menjadi kewajibanmu. Aku hanya ingin saat aku jatuh, saat aku ragu, saat aku limbung, kau ada untukku. Meski pertemuan fisik bukanlah keabadian, namun hati yang selalu siap mendengarkan dengan sepasang telinga adalah hal sederhana yang aku impikan darimu. Apakah salah jika aku menginginkan kamu sebagai tempat bersandarku?
Cinta, aku ingin kau menoleh padaku yang tersakiti tanpa sadarmu. Kesakitan karena sifatmu yang tak peduli padaku, seakan-akan aku adalah barang yang kapan saja bisa kau lihat namun selalu hilang dari pandangmu. Aku adalah barang tak pantas mendapatkan perawatan darimu, kau tak peduli apakah aku masih sedap dipandang atau telah usang dengan debu yang tebal.
Sayang, kebahagiaan yang kau berikan untukku sangatlah sederhana. Dengan perhatian kecilmu saja itu telah mampu menerbangkan aku hingga langit ke tujuh, atau mungkin lebih, maka beri aku sedikit saja perhatianmu, maka cinta ini akan subur dan berkembang biak. Hanya itu, hanya itu yang menjadi inginku. Tak dapatkah kau melakukannya untukku? Tak inginkah kau berbuat sesuatu untuk membahagiakan aku?
Tak pernahkah kau merasa takut kehilangan aku? Jika memang pernah kau merasakan hal itu, maka rawatlah aku dengan sewajarnya, berikan cinta dan kasihmu dengan sederhana. Maka akan subur cinta ini yang nantinya akan kupersembahkan untukmu.
Kini aku hanya bisa menyangka bahwa beginilah caramu mencintai aku. Sebisa mungkin aku akan terus berusaha memahamimu. Entah sampai dimana batas kesabaranku, yang aku harap tak akan pernah habis hingga aku menuai hasilnya.
Jika kau meminta aku untuk mundur, pergi, dan menghilang, maka itu tak akan pernah aku lakukan karena aku yang telah memilihmu, maka aku akan terus maju, menantang sifatmu, dan terus berada di sampingmu. Meski aku harus menyiapkan hati sekeras baja untuk menahan kesakitan itu.
Beginilah aku, jika memilih tak akan pernah aku lepas. Aku berdoa pada Tuhan, semoga kelak kau menoleh padaku, meraih tanganku, dan mengucapkan pada dunia bahwa kau mencintai aku.
Sayang, kebahagiaan yang kau berikan untukku sangatlah sederhana. Dengan perhatian kecilmu saja itu telah mampu menerbangkan aku hingga langit ke tujuh, atau mungkin lebih, maka beri aku sedikit saja perhatianmu, maka cinta ini akan subur dan berkembang biak. Hanya itu, hanya itu yang menjadi inginku. Tak dapatkah kau melakukannya untukku? Tak inginkah kau berbuat sesuatu untuk membahagiakan aku?
Tak pernahkah kau merasa takut kehilangan aku? Jika memang pernah kau merasakan hal itu, maka rawatlah aku dengan sewajarnya, berikan cinta dan kasihmu dengan sederhana. Maka akan subur cinta ini yang nantinya akan kupersembahkan untukmu.
Kini aku hanya bisa menyangka bahwa beginilah caramu mencintai aku. Sebisa mungkin aku akan terus berusaha memahamimu. Entah sampai dimana batas kesabaranku, yang aku harap tak akan pernah habis hingga aku menuai hasilnya.
Jika kau meminta aku untuk mundur, pergi, dan menghilang, maka itu tak akan pernah aku lakukan karena aku yang telah memilihmu, maka aku akan terus maju, menantang sifatmu, dan terus berada di sampingmu. Meski aku harus menyiapkan hati sekeras baja untuk menahan kesakitan itu.
Beginilah aku, jika memilih tak akan pernah aku lepas. Aku berdoa pada Tuhan, semoga kelak kau menoleh padaku, meraih tanganku, dan mengucapkan pada dunia bahwa kau mencintai aku.






