Tuhan, aku suka
suaranya. Aku suka perhatiannya. Aku suka tatapannya. Aku suka caranya
menenangkan hati ini. Aku suka tawanya. Aku suka senyumnya. Aku suka ceritanya.
Aku suka kejujurannya. Aku suka semua yang ada pada dirinya.
Mungkin ia tak akan
pernah percaya apa yang aku rasa dan aku katakan walau aku telah mengatakannya dengan
ketulusan dan kejujuran. Namun aku tak peduli itu. Cukup di sampingnya saja
telah menjadikan aku damai.
Aku semakin
merindukan dia. Aku semakin tak ingin melepasnya. Entah apa yang telah mereka
katakan tentang dia. Tak peduli bagaimana masa lalunya, aku hanya ingin masa
depan yang baik dengannya, salahkah..??
Memperbaiki kerusakan
memang tidak mudah, namun aku yakin pasti akan jalan. Aku yakini itu, maka aku
bertahan dengan dia. Tak ada manusia sempurna di dunia ini, begitu pula aku,
maka siapalah aku jika mencari kesempurnaan darinya..??
Tuhan, dia telah
mengajarkan padaku tentang banyak hal tanpa ia sadari. Dia hebat di mataku
tanpa ia sadari. Dia tak pernah menyadari itu karena dia terlalu sibuk menilai
kerendahannya sendiri. Terlalu bersembunyi di balik kekurangannya.
Tuhan, salahkah
rasa ini yang memang menginginkan dia? Salahka rasa ini yang meyakini dia? Memang
aku masih saja merasa takut untuk melangkah di kisah yang baru. Memang aku
masih tak ingin merasakan keterikatan yang memberikan bayangan tentang
perpisahan. Namun aku tetap membutuhkan kedamaian, dan kedamaian itu ada
padanya. Maka izinkan aku untuk terus berada pada jalur ini, Tuhan. Menunggu dia
berpaling pada rasa ini untuk kemudian menyentuhnya tanpa ragu.
Sampai kapan aku
menunggu? Sampai dia telah menemukan kedamaiannya sendiri. Sementara aku
menunggu, akan kuyakinkan dia akan rasa ini. Semoga Tuhan mengerti akan inginku
hingga Tuhan memberikan ruang sabar yang begitu luas padaku.
Tuhan, bantu
umat-Mu ini untuk meyakinkan dia... Amin...
:)
- V -

Tidak ada komentar:
Posting Komentar