Sampai detik ini, aku belum juga merasakan bahagia di atas angan-angan. Semua seakan hanya berjalan di atas bayanganku. Tidak pernah menyentuh hati dan jiwa ini.
Keadaan menjadikan aku terpuruk dan merasa kecil. Ini adalah titik terendahku. Dan aku muak dengan keadaan ini.
Ketika aku menghargainya, dia justru membalasnya dengan ludah. Ketika aku menyayanginya, dia justru membalasnya dengan penghianatan.
Tak pernahkah dia berpikir apa yang seharusnya dia lakukan padaku untuk membalas setiap inci dari pengorbanan yang aku berikan. Tidakkah dia sedikit merasakan kesakitan yang aku rasakan ketika dia bersama yang lain.
Masih adakah rasa sayang dan rasa manusiawi dlaam hatinya? Ku pikir itu sudah tidak ada lagi. Bagaimana dia melakukan penghiantan, itu karena eginya dan kerja samanya dengan setan yang tengah membelenggu.
Serius, aku tidak ingin dia seperti ini, aku hanya ingin dia menerima aku apa adanya, seperti halnya aku yang telah menerima dia apa adanya.
Seius, aku tidak ingin kejadian ini kembali terulang dalam kehidupanku. Aku lelah dengan penantian yang panjang, aku lelah dengan penghianatan yang terus menghantui. Aku lelah dengan semua hal yang tidak penting. Karena itulah kini aku merasa berada dalam titik terendah.
Titik terendah, dimana kamu bisa dengan leluasa meludahiku, memakiku, menerjangku, dan menghinaku. Lakukan saja sepuasnya, aku tak mau tahu.
Kini, di titik terendah, aku memiliki seseorang yang bagiku sangat berarti. Dia adalah penggantimu, bukan hanya pengganti, tapi pendampingku, dan aku rasa aku ingin selalu bersamanya. Tak ada sedikitpun keraguan saat aku memilihnya.
Kini, di titik terendah, aku ingin kembali bangkit, tak lagi peduli padamu. Bukan karena aku dengan mudah membuang kisah kita, tapi justru aku sulit melupakan kenangan kita. Aku ingin berlari, meninggalkan kenangan itu, karena aku yakin kau pun tak lagi peduli padaku.
Ku harap kamu segera mendapat seseorang yang sangat mencintai kamu, dan aku mohon jangan lagi sia-siakan dia. Jangan lagi sakiti orang lain yang tulus mencintaimu. Mungkin cukup aku saja yang mendapatkan perlakuan ini darimu, aku harap tidak ada lagi yang lain.
Kini, biarkan aku berjalan dengan seseorang yang aku pilih, dengan seseorang yang kamu kenal, dengan seseorang yang telah mencuri perhatianku jauh sebelum kita berpisah,
Tidak, dia tidak merebutku dari kamu. Dia pun tidak bersalah, karena aku yang bersalah pada hubungan kita dulu. Aku terlalu memaksakan diri untuk melanjutkan hubungan kita kala itu, padahal sudah gtidak ada lagi rasa untukmu, dan kamu mengenalkan aku padanya.
Tidak, dia tidak menghianati persahabatan kalian. Dia hanya manusia biasa yang hanya mengalir mengikuti keinginan Tuhan. Atas ijin Tuhan, ternyata aku dan dia saling memendam rasa sejak pertama kenal. Atas ijin Tuhan pula kami bersatu.
Maafkan kami jika memang ini membuatmu terluka. Namun, ingatkah kamu akan luka yang kamu berikan padaku? Itu jauh lebih kejam.
Tidak, aku tidka ingin membalas perlakuanmu dengan memanfaatkan kekasihku ini. Sungguh aku tidak ada niat buruk seperti itu. Aku pun hanya manusia biasa, yang mengikuti keinginan Tuhan.
Dan atas ijin Tuhan pula, aku sanggup mencintai dan menyayanginya meski tak selalu sempurna.
Titik terendah ini menyadarkan aku akan cintaku pada 'AV'. Menyadarkan aku bahwa hidup bukan untuk bermain dan melupakan sekitar.
Just for 'SS', now, i love 'AV'. You, my memories...
GBU for you...