Rabu, 08 Februari 2012

Apa Salah Mereka

Pagi yang cerah, sepulang kuliah pagi, perut ini yang sedang bermasalah sejak kemarin meminta asupan makanan. Terpaksa ku rogoh saku untuk memenuhi permintaannya, padahal aku tidak memiliki banyak uang saat ini. Tapi biarlah, yang penting dia tidak meronta lagi seperti semalam.
Kunikmati santapan di depanku, rasanya gurih walau hanya nasi putih berlumur kecap dan berlauk telor dadar. Memang sarapan yang paling aku sukai. Sarapanku kali ini ditemani dengan seorang teman, memang lebih nikmat makan dengan teman atau pacar atau saudara dibanding makan sambil melongo sendirian.
Apapun lauknya, kalo kumpul, pasti nikmat. Karena itulah aku mengajak salah seorang teman untuk makan bersama denganku. Selesai aku menghabiskan santapanku, di luar warung ada beberapa anak laki-laki tengah berjalan.
Mereka memakai pakaian olahraga, bersenda gurau dengan teman yang lain. Namun ada yang aneh dengan mereka, dari gerak-geriknya. Tak sesempurna gerakan orang lain, gerakan mereka terpatah-patah. Ku perhatikan, dan semakin aku perhatikan, memang mereka berbeda.
Beberapa di antara mereka memiliki mata yang tak sempurna, cara jalan yang juga jauh dari sempurna, mimik polos mereka yang menyentuh hati, dan tangan mereka yang juga kurang serasi. Lumayan banyak gerombolan dari mereka. Aku terenyuh. Seketika aku bertanya dalam hati, "Tuhan, apa salah mereka?"
Rasanya aku ingin mengulurkan tangan untuk menuntun beberapa dari mereka seperti dua orang guru yang juga menuntun anak didiknya karena cacat kaki atau mata.
Mereka adalah usia anak Sekolah Menengah Pertama. Tapi keterbatasan yang mereka miliki tidak menjadikan mereka terhambat untuk menimba ilmu. Mereka adalah bagian dari kita. Aku tidak ingin melihat mereka dari kekurangan fisik, karena aku sadar di balik kekurangan yang mereka miliki, ada segudang atau bahkan lebih kelebihan yang dimiliki. 
"Tuhan, mereka hanya ingin normal seperti kami yang normal. Tuhan, mereka hanya ingin dipandang seperti biasa, bukan dipandang aneh. Tuhan, mereka hanya ingin dinilai hebat, bukan dilihat dengan cahaya mata kasihan. Tuhan, berikan berikan mereka keajaiban. Karena hanya Engkau yang sanggup memberikan kesempurnaan sebagai manusia pada mereka yang telah terlahir tak sempurna. Amin..."
Setelah gerombolan mereka melewati kami, aku dan temanku saling berpandangan, "Aku wareg (aku kenyang)". Begitu kata temanku yang belum menyelesaikan santapannya.
Rasa iba yang luar biasa seketika menjadikan kami merasa kenyang seketika. Kecuali aku, memang kenyang, hehehe...
Kelak, saat aku memiliki banyak rejeki berlimpah dari Tuhan, akan aku bangun sebuah sekolah untuk penyandang cacat, panti asuhan penyandang cacat, play group umum, dan panti jompo khusus orang tua (kakek-nenek) yang benar-benar tidak memiliki keluarga lagi dan tidak sanggup memenuhi kebutuhannya sendiri.
Semoga saja itu semua tercapai, amiiiiin...
Satu yang aku ingin dari semua keinginanku, aku, kamu, dia, mereka, dan kalian semua, dapat tersenyum lebar dan bahagia menatap dunia indah ini....

Tidak ada komentar: