Selasa, 29 Mei 2012

Aku Sekarang

jika aku menghilang, itu karena aku tak ingin menjadi bebanmu..
jika aku berpura2 tak mengenalmu, itu karena aku tak ingin kamu malu..
ya, aku memang tak pantas untuk kamu sentuh..
walau hati masih menyimpan rasa, yakin lah aku telah berusaha melakukan yang kamu mau, membunuh rasa itu..
walau hati masih terluka, kucoba mengobatinya sendiri..
meski ada mereka yang berniat membantu..
bukan, aku bukan berlagak tegar atau tak butuh mereka..
aku hanya butuh kesendirian untuk kembali pada sadarku..
entah sampai kapan aku akan sendiri, hanya aku dan Tuhan yang tahu..
untukmu, yang telah berikan luka, terima kasih atas waktumu terdahulu untukku..
kini aku kembali melangkah....

Mungkin Memang Yang Terakhir

Sejak keputusanmu, aku menghilang dari peredaranmu. Aku pikir kau akan merindukan kehadiranku dan mencari keberadaanku. Namun hari demi hari kulewati, hingga tercipta kata ‘dua minggu’. Tak ada kabar darimu, kau pun tak mencariku. Aku berpikir dengan logika, mengikuti jejakmu, sang pemuja logika. Saat kita bersama saja kau tak pernah sedikitpun merasa rindu padaku jika aku menghilang tanpa kabar, bagaimana dengan keadaan sekarang? Tak ada alasan bagimu untuk merindukan kehadiranku. Aku bukanlah orang penting dalam hidupmu, jadi wajarlah jika memang kau tak pernah menoleh padaku.
Sejak kita berpisah, aku mencari tahu apa yang sebenarnya menjadi alasanmu meninggalkan aku. Kutemukan jawaban itu, dan kamu tahu? Betapa sakit hati ini saat mengetahuinya namun tak lama kemudian aku tertawa. Menertawakan alasan konyolmu. Tak habis pikir aku mendengar bahwa ka menyangka aku sedang membalas budimu dengan menyayangi kamu. Juga alasan aku terlalu berlebihan dalam mengungkapkan rasa sayang.
Bagimu, ucapan ‘Love’ you sangat berlebihan untuk diucapkan. Tidak tahukah kamu bahwa kata itu sangat penting bagi seorang perempuan. Tidak hanya untuk aku. Sadarkah kau bahwa ketidakpedulianmu pada seorang kekasih adalah tidak wajar dan berlebihan? Aku hanya ingin memberikan contoh bagaimana memperlakukan seorang kekasih, namun rupanya kamu salah paham dan menganggap bahwa aku alay. Terserahlah apa penilaianmu terhadap aku, yang jelas aku semakin sadar bahwa kita benar-benar berbeda. Aku memang sayang padamu, ingin kembali padamu, namun sejak aku tahu apa alasanmu, rasa cinta itu semakin lama semakin mengecil. Tidak, aku tidak melupakan rasa sayang padamu dengan cepat, hanya saja kamu yang memintanya seperti itu.
Tentang balas budi, tak pernah terpikir olehku bahwa rasa sayang itu adalah bentuk balas budi. Aku tulus menyayangimu. Memang aku berterimakasih padamu karena telah membantuku bangkit saat aku terpuruk, tak aku pungkiri itu. Namun sayang dan kasih yang aku berikan selama ini tak ada kaitannya dengan ucapan terima kasih itu. Sungguh benar-benar tidak ada.
Asal kau tahu, aku masih ingin merasakan belaian kasihmu, aku merindukan panggilan sayang darimu, dan aku menunggu kalimat maaf terucap dari bibirmu. Namun aku harus mengubur harapan itu karena aku tahu kau tak akan melakukan itu lagi untukku.
Sedemikian pentingnya kah urusan organisasimu hingga kau tak dapat melihat kasih ini? Sedemikian pentingnya kah sahabat bagimu hingga kau tak merasakan sayang ini? Entahlah, bagaimana jalan pikiranmu. Aku tak pernah mengerti.
Sudahlah, obrolan kita kemarin adalah yang terakhir. Mungkin saja aku malas menghubungimu. Mungkin saja kelak kau akan benar-benar hilang dari ingatanku tergantikan dengan banyak hal yang menjadi tanggung jawabku pula. Maaf jika memang itu akan terjadi. Sementara aku telah sadar sejak awal bahwa aku adalah masa lalu untukmu, dan bagimu masa lalu hanyalah masa lalu, tak lebih. Maka masa lalu adalah sampah yang harus dibuang. Aku adalah masa lalu yang siap masuk tong sampah. Silahkan kau berlari meninggalkan aku, tak akan aku pegang tanganmu karena kau telah melepas tangan ini.
Selamat tinggal, kenangan....
Kelak, saat kita telah di garis bahagia dengan seseorang yang telah memegang tangan kita, bahagia lah kita.
Kelak, bahagia tengah menanti....
Maafkan aku jika kelak aku tak dapat mengenalimu dengan baik....


Senin, 21 Mei 2012

Keputusanmu

Aku lupa menulis tentang ini. Sebenarnya aku tak ingin menceritakannya, tapi hatiku terlalu 'penuh' maka aku memutuskan untuk menuangkannya di sini.
Pada tanggal 8 Mei yang lalu, aku menangis pada seorang kawan. Kukatakan padanya semua rasa dalam hati. Sungguh, aku merasakan ketenangan dari setiap pesannya. Aku tak sempat mengatakan 'Terima kasih' padanya karena terlampau susah untuk kembali berkomunikasi dengannya. Ada satu alasan dimana aku tak ingin kehadiranku membunuh suasana bahagia di sekelilingnya.
Malam itu juga, untuk terakhir kalinya aku mendengar suaramu. Suara yang selama lima bulan perjalanan kisah kita selalu aku rindukan. Aku sadar, aku tak mungkin mengikatmu jika kamu selalu ingin berpisah dengan talinya. Maka ketika keputusanmu adalah 'Putus', aku hanya mengelus dada, menahan air mata yang tak mampu lagi tertampung, dan menguatkan hatiku sendiri.
Malam itu, tak ada satu pun bintang yang hadir menemani aku. Bahkan untuk beberapa hari setelahnya, langit mendung, tak bersahabat. Seperti aku yang tak masih tak mampu membendung air mata dan kesedihan karena keputusanmu.
Tak hanya keputusanmu yang menjadikan aku menggeleng kepala heran. Alasan yang ajukan pun membuat aku terheran-heran. Alasan itu bisa saja terpecahkan jika kau mau dan kau ingin kita tetap bersama. Namun aku telah mendengar alasanmu yang sebenarnya. Aku tahu dari salah satu sahabatmu. Aku percaya padanya.
Alasanmu benar-benar membunuh rasa sayang yang selama ini aku pupuk. Kau katakan aku menjadikanmu pelampiasan, itu sungguh melecehkan aku. Bagaimana bisa kau berpikir aku sekedar balas budi atas kebahagiaan yang telah kau berikan saat aku sedang bangkit dari keterpurukan? 
Kau juga mengatakan bahwa aku berlebihan dalam mencintaimu. Memang aku akui aku berlebihan mencintaimu, karena aku merasakan kebahagiaan dan merasa dihargai sebagai perempuan hanya denganmu. Tidak dengan laki-laki lain. Tapi aku menunjukkan 'berlebihan' itu karena aku ingin kau sadar bahwa kita ini adalah pasangan. kita ini bukan sekedar teman atau sahabat.
Aku butuh kepastian darimu. Sadarkah kamu bahwa sikapmu padaku tak ada yang menunjukkan bahwa kau adalah lelakiku?
Sadarkah kamu bahwa aku cemburu ketika kau lebih khawatir karena sahabatmu hilang di tengah keramaian daripada mengkhawatirkan aku yang kedinginan karena udara malam? Bahkan kau tak sedikitpun khawatir padaku jika aku hilang tanpa kabar. Sepenting itukan sahabatmu daripada aku yang mungkin saja menjadi masa depanmu?
Aku pendam kecemburuan itu. Aku simpan amarah itu, bukan hanya perkara sepele itu tapi juga karena perkara lainnya. Tak kulihat gelagatmu berusaha menyeimbangkan keadaan denganku. Aku gerah bukan main.
Satu hal yang pasti, keputusanmu adalah yang terbaik. Memang yang terbaik untuk kamu. Aku tak akan mengejarmu lagi. Sudah cukup aku kehilangan kendali karena kepergianmu, maka jangan pernah kau hadir dengan membawa harapan padaku jika itu hanya untuk kau permainkan.

Jeritan Hati Ini

Jika aku marah, jika aku menangis, jika aku terlihat lemah, apakah itu salah? Aku tidak merasa pongah dengan keangkuhan mengakui kelemahanku. Aku sadar aku hanya manusia. Tuhan ciptakan aku bukan dari cahaya seperti Dia menciptakan malaikat. Maka aku bukan bagian dari malaikat. Aku memiliki amarah dan kelemahan.
Jika aku tak sanggup berkata-kata, kemana aku akan melangkah? Apakah ada satu orang saja yang berniat meminjamkan pundaknya padaku? Aku rasa tidak akan ada. Ayah yang selalu ada untukku telah berada di hadapan Tuhan, beliau hanya bisa melihat aku berderai air mata. Mungkin beliau ingin memelukku dan menenangkan aku seperti dulu yang beliau lakukan, tapi alam dan Tuhan tak mengijinkan. Dia yang aku banggakan dan aku harapkan dapat menjadi penopangku telah pergi. Satu persatu. Sepertinya aku selalu salah memilih pundak mereka yang lebih memilih kepentingannya sendiri.
Jika aku mengeluh demikian, aku menemukan satu jawaban, “Pada sahabatlah kamu bersandar.”
Tidak aku pungkiri, aku memiliki banyak sahabat. Tapi apakah mereka tidak memiliki masalah juga? Haruskah aku egois dengan meminta mereka untuk mendengarkan curhatku dan melupakan masalah mereka sendiri? Itu bukan aku.
Tak aku temukan pundak yang tepat ketika hati ini meronta meminta sedikit keadilan. Salahkah aku jika aku mengeluh lelah dengan semua yang telah terjadi? Aku benar-benar lelah menghadapi hidup ini.
Bukan, aku bukan tidak bersyukur pada Tuhan. Hanya saja setiap orang disadari ataupun tidak, diakui ataupun tidak, pasti memiliki titik jenuh akan kehidupan ini.
Yang aku butuhkan adalah ketenangan. Tidak bisakah sebentar saja tenang dalam menghadapi amarah? Karena aku muak dengan amarah yang berkobar namun terpendam dalam sekam. Tidak bisakah sedikit saja berikan aku ruang untuk tersenyum melihat kedamaian? Bukan kedamaian berupa topeng yang aku inginkan, aku ingin kedamaian yang sebenarnya. Yang nyata. Tidak abstrak.
Duniaku tak hanya sebatas tentang kalian saja, bukan aku tak ingin menghiraukan. Hanya saja ketika kalian mendapat perhatianku, selalu aku yang terpojok. Niat baikku pun hilang entah kemana. Dibuang sia-sia. Tak pernah berwujud.
Aku bingung. Aku gundah. Aku gelisah.
Semua yang aku rasakan membuat aku semakin yakin bahwa mati adalah jalan terbaik.
“Tidak, tidak, Tuhan masih di pihakku.” Ujarku pada hatiku sendiri.
Sampai kapan ini akan berlangsung? Sampai aku kehabisan air mata? Sampai aku mati dengan mulut menganga yang berusaha mengatakan pada kalian untuk saling memahami? Atau sampai aku kehilangan akal sehat karena memikirkan semua ini?
Aku pun tak berniat mengalihkan apa yang menjadi kewajibanku kepada orang lain. Aku ingin berbagi sedikit saja dengan mereka yang ingin membantuku. Aku bukan menyebar aib, aku ingin menegarkan hatiku sendiri dengan semangat dari mereka. Terkadang semangat yang mereka berikan melebihi kebutuhanku, maka aku akan menyimpan semangat itu untuk kupakai esok. Jika esok semangat itu habis dan tak ada yang mengisi, entah apa yang akan terjadi padaku.
Tuhan, tidak bolehkah aku melihat cahaya-Mu?
Sedikit saja....
Aku ingin tentram dan damai....
Tuhan, ijinkan aku merasakan sentuhan-Mu....
Sebentar saja....
Aku ingin pulas dalam dekap-Mu....
Maafkan aku yang terlalu ingin meninggalkan dunia ini sebelum takdirmu menyentuhku. Aku hanya ingin bertemu dengan-Mu, Tuhan....
Akan aku ceritakan bagaimana aku menahan sakit di hati, menyimpan luka untuk waktu yang tak sebentar. Walau aku tahu, tanpa aku bercerita pada-Mu, Engkau telah tahu apa yang terjadi padaku.
Tuhan, inilah tulisan jeritan hati yang ingin aku katakan pada-Mu dan dunia....

Rabu, 25 April 2012

Kisah Yang Sama

Kasih, coba kau baca suratku ini....
Hari ini setelah pertengkaran kita kemarin, kamu memutuskan aku. Aku memang telah menduga kamu pasti memikirkan hal ini. Kau tahu? Aku menangis sebelum berangkat kuliah, mendadak semangatku semakin hancur. Entah karena aku takut kehilangan kamu atau karena rasa sayangku yang begitu besar padamu. Aku tak ingin merasakan kehilangan untuk kesekian kalinya, sungguh itu adalah hal yang aku hindari dalam hidupku. Cukup sudah aku kehilangan Ayah dan seseorang yang pernah ada dalam hati ini. 
Malam minggu kemarin, sebenarnya aku ingin sekali kamu yang menemani aku walau jarak tak sedekat mata dan mulut. Namun email yang aku kirim tak kunjung mendapat balasan darimu meski kamu berada di rumah -pasalnya kalau di kampus kamu selalu sibuk dengan organisasi. 
Malam itu, malam yang bahagia untuk aku sekaligus malam yang membuatku sedih. Seorang teman dari masa lalu, hadir dalam kembali dalam kehidupanku. Tahun lalu, ketika kita masih menjalin hubungan seumur jagung, datanglah ia, laki-laki pembawa bahagia dan tawa saat aku terpuruk karena sifatmu. Bersama dia aku merasa terbang dan menjadi layaknya perempuan. Apa yang tidak aku dapatkan darimu telah aku dapatkan darinya, hingga aku pernah melupakan kebahagiaan yang pernah kau berikan untukku. Aku telah kehilangan perhatian dan kasih sayangmu, aku telah kau buang seolah aku tak berarti bagimu. Kau telah mengiyakan padaku bahwa kau memilih sahabat dan organisasi daripada memilih aku atau memilih ketiganya.
Aku mendapatkan perhatian dan kasih sayang darinya, menjadikan aku berpaling darimu walau kita ta berpisah. Namun selang berapa hari selama kita tanpa komunikasi dan aku semakin dekat dengannya, kamu menghubungiku dan mengatakan 'kita putus'. Aku terpuruk saat itu, dan dia selalu ada untukku. Namun Tuhan berkata lain, sejalannya waktu, dia pun pergi, kubiarkan ia memilih seseorang yang telah menunggunya. Aku pun menekuri diri, mengingat mengapa aku kehilanganmu. Kusadari saat itu juga, bahwa mengiyakan permintaanmu untuk putus adalah hal bodoh. Ternyata aku masih sayang padamu, bayangmu, senyummu, marahmu, dan kepolosanmu menjadikan aku rindu setengah mati. Kita pun kembali.
Sekarang, pada malam minggu kemarin, dia kembali hadir dalam kehidupanku, saat aku jenuh dengan sifatmu yang tak kunjung berubah. Dia, seperti biasa, selalu bisa menghadirkan suasana ceria. Jujur saja, hatiku masih bergetar saat di dekatnya. Menatap matanya seakan tak ingin lagi jauh darinya. Andai saja aku bisa memiliki hatinya, sungguh aku merasa menjadi perempuan beruntung.
Sisi baikku berkata untuk tidak berpaling darimu hanya karena dia yang hadir kembali di antara kita. Sisi burukku mengatakan untuk meninggalkanmu karena tak kulihat perubahan darimu bahkan kupikir kau tak akan merasa sakit hati kehilangan aku. Kau tahu, Kasih? Aku merasa bahagia seperti tahun lalu saat pertama bertemu dengannya. Hari ini, aku sadar, kejadian yang sama telah terjadi.
"Aku jenuh - Dia hadir - Kau memutuskan aku"
Tak kuasa aku menahan tangis, kutuang semua padanya. Dengan caranya menenangkan aku, dia mengatakan padaku untuk sabar dan dia selalu ada di dekatku untuk aku. Betapa aku merasa terharu, Kasih.
Tidakkah kau ingin membahagiakan aku, Kasih?
Mengapa kau selalu saja gampang mengucap kata 'putus' di tengah perbedaan?
Jangan kau pikir aku hanya kecewa padamu. Dengan siapa pun aku kelak, rasa kecewa itu pasti akan ada di setiap kesalahan karena tak ada yang sempurna di dunia ini. Kesalahan bukan untuk dihindari tapi dihadapi dan diperbaiki. Tahukah kamu, bahwa untuk mencapai perbaikan itu pasti akan sesuatu yang dikorbankan.
Entahlah, Kasih...
Apa yang sedang kau pikirkan
Aku rasa aku tak pernah ada di hati dan pikiranmu.
Aku tahu, sahabat dan organisasi adalaha yang terpenting bagimu. Maka nikmatilah saja....
Tak akan aku mengahalangimu.
Dia, sang pemberi senyuman, adalah bintangku.
Kamu, sang penjaga hati ini, adalah matahariku.

Rabu, 04 April 2012

Aku Yang (Masih) Menanti

Kasih, aku hanya ingin kau ada untukku. Bukan setiap waktu, setiap detik bahkan sampai kau melupakan apa yang menjadi kewajibanmu. Aku hanya ingin saat aku jatuh, saat aku ragu, saat aku limbung, kau ada untukku. Meski pertemuan fisik bukanlah keabadian, namun hati yang selalu siap mendengarkan dengan sepasang telinga adalah hal sederhana yang aku impikan darimu. Apakah salah jika aku menginginkan kamu sebagai tempat bersandarku?
Cinta, aku ingin kau menoleh padaku yang tersakiti tanpa sadarmu. Kesakitan karena sifatmu yang tak peduli padaku, seakan-akan aku adalah barang yang kapan saja bisa kau lihat namun selalu hilang dari pandangmu. Aku adalah barang tak pantas mendapatkan perawatan darimu, kau tak peduli apakah aku masih sedap dipandang atau telah usang dengan debu yang tebal.
Sayang, kebahagiaan yang kau berikan untukku sangatlah sederhana. Dengan perhatian kecilmu saja itu telah mampu menerbangkan aku hingga langit ke tujuh, atau mungkin lebih, maka beri aku sedikit saja perhatianmu, maka cinta ini akan subur dan berkembang biak. Hanya itu, hanya itu yang menjadi inginku. Tak dapatkah kau melakukannya untukku? Tak inginkah kau berbuat sesuatu untuk membahagiakan aku?
Tak pernahkah kau merasa takut kehilangan aku? Jika memang pernah kau merasakan hal itu, maka rawatlah aku dengan sewajarnya, berikan cinta dan kasihmu dengan sederhana. Maka akan subur cinta ini yang nantinya akan kupersembahkan untukmu.
Kini aku hanya bisa menyangka bahwa beginilah caramu mencintai aku. Sebisa mungkin aku akan terus berusaha memahamimu. Entah sampai dimana batas kesabaranku, yang aku harap tak akan pernah habis hingga aku menuai hasilnya.
Jika kau meminta aku untuk mundur, pergi, dan menghilang, maka itu tak akan pernah aku lakukan karena aku yang telah memilihmu, maka aku akan terus maju, menantang sifatmu, dan terus berada di sampingmu. Meski aku harus menyiapkan hati sekeras baja untuk menahan kesakitan itu.
Beginilah aku, jika memilih tak akan pernah aku lepas. Aku berdoa pada Tuhan, semoga kelak kau menoleh padaku, meraih tanganku, dan mengucapkan pada dunia bahwa kau mencintai aku. 

Senin, 02 April 2012

Sebotol Juice VS Segelas Air Putih

Memahamimu adalah kegiatan sehari-hariku. Terbuang dari duniamu bukan hal baru bagiku. Semua yang kamu lakukan untukku kuterima dengan hati lapang. Bukan tanpa alasan, bukan karena mataku tertutup oleh cinta buta seperti kata orang, namun karena aku sayang padamu, aku tak ingin lagi kehilangan kamu seperti dulu saat aku melepasmu karena keegoisanku hingga akhirnya aku tersiksa oleh rasa rindu yang luar biasa di dada. Tak mampu aku utarakan karena aku tak ingin mengganggumu bersama dia yang mungkin telah menggantikan posisiku.
Ternyata Tuhan telah berbaik hati padaku, memberikan aku kesempatan untuk mengenalmu dan memahamimu. Maka kini aku tak lagi terbakar oleh emosi yang menggebu-gebu. Kini aku telah menaklukkan amarah yang tak pasti. Aku pun tersenyum dengan tingkahmu. Tak lagi terkejut dengan sifat acuh tak acuhmu.
Kamu adalah lelakiku, yang seharusnya menjadi tempat aku bersandar. Seperti katamu saat aku bertanya, "Jika aku menjadi bintang, kamu mau menjadi apa?" dengan jawabanmu, "Jadi langitnya, biar selalu ada untuk kamu."
Sungguh aku ingin sekali menagih kalimatmu saat aku terjatuh dan butuh kamu untuk menguatkan aku, menyembuhkan aku dari luka itu. Namun, kesibukanmu yang luar biasa memaksaku untuk berjalan tertatih tanpa bantuanmu. Aku masih sanggup berjalan dengan satu kaki, tapi entahlah esok.
Sayang, aku ingin berada di kotamu, saat kamu sibuk dengan kegiatan. Aku tahu, waktumu tak banyak untuk sedikit saja memerhatikan aku. Jangankan memerhatikan aku, menjaga kesehatanmu saja aku yakin kamu masih kelimpungan. Jam makanmu berantakan, waktu belajarmu lebih sedikit dari waktu istirahatmu. Tak tega jika aku membayangkan keletihan di wajahmu.
Aku hanya bisa berkhayal, saat aku berada di kotamu, melihatmu letih karena kegiatan yang tak kunjung usai, aku datang dengan sekotak bekal. Di dalamnya ada menu sederhana, nasi putih dengan lauk sayur bayam -karena aku ingin kamu penuh tenaga seperti Popeye, menaklukkan segudang kegiatanmu- dan tempe goreng atau ikan goreng -karena aku tak pandai memasak. Juga segelas air putih -untuk penghilang dahagamu- dan sebotol apple juice -untuk pelengkap di antara juice favoritemu.
Antara apple juice dan air putih. Begitulah antara aku dan kegiatanmu. Aku adalah pelengkap dari kehidupanmu, sementara kegiatanmu adalah penghilang dahagamu yang selalu kamu butuhkan. Seperti hakikatnya air putih, merupakan kebutuhan pokok bagi semua makhluk hidup, begitulah bagimu sebiah kegiatan yang menguras tenaga. Sementara aku hanyalah sebotol juice yang mungkin kamu sukai namun bukan menjadi kebutuhanmu.
Tidak, aku tidak ingin memojokkanmu dengan menyalahkanmu karena kegiatanmu yang segudang sehingga menelantarkan aku. Aku telah berusaha dengan baik untuk memahami kamu. Meski terkadang aku tak sanggup menahan emosi di hati.
Aku memang bukanlah yang pertama bagimu, begitu pula denganmu, memang bukan yang pertama untukku. Namun biarlah aku memilihmu untuk menjadi yang terakhir untukku. Meski aku hanya akan menjadi apple juice bagimu. Setidaknya itu membuatmu tersenyum karena kesejukan yang aku berikan. Aku berharap akan menjadi sebotol apple juice yang mampu menghapus dahagamu, memberi kesejukan, dan memberikan vitamin bernama 'semangat' untukmu.
Meski aku terkadang iri dengan air putih yang hanya segelas saja telah mampu membuatmu melupakan aku. Meski tak jarang aku menangis sedih karena sikapmu. Seakan aku masih bertanya, apakah aku adalah sebotol juice yang kamu harapkan. Apakah aku perempuan bayanganmu saja ataukah lebih?
Kupilih kamu dengan hati, maka pilihlah aku dengan hatimu, bukan dengan instingmu. Jika kamu memang memilih aku, maka lihatlah aku. Aku butuh kamu untuk membantuku menyuburkan cinta ini. Hubungan ini adalah kita, bukan aku atau kamu. Sekali saja, coba rasakan apa yang aku rasakan ketika kamu menghilang tanpa sedikitpun respon untukku karena urusanmu.
Biarkan aku tetap menjadi juice bagimu karena aku tak akan bisa menjadi air putih bagimu selama kamu tak pernah mau mengerti akan rasa ini.

Kamis, 22 Maret 2012

Sisi Lainmu

Lama kita tak jumpa, kusempatkan untuk datang ke tempat perantauanmu meski awalnya aku tak yakin dapat bertemu denganmu karena aku tahu bagaimana sibuknya kamu. Namun teman kita yang super baik hati telah mempertemukan kita. Aku sungguh berterima kasih padanya.
Pertama kali aku lihat kamu datang, dengan dandanan yang berantakan; rambut panjang, gak disisir, mata masih bengkak bekas bangun tidur, belum mandi, dna wajah yang juga masih kumus-kumus. Serius aku nelangsa banget ngeliat keadaan kamu yang gak terawat kayak gitu. Tapi aku sedikit bersyukur karena setidaknya kamu masih sehat, dan sedikit lebih gemuk.
Kenapa aku sering bilang kamu kurusan padahal aku juga sadar kamu gemuk? Karena aku pengen negur kamu yang kelewat sibuk dengan acara organisasi, rapat sana rapat sini, aku pengen kamu inget kalo aku bilang kamu kurusan biar gak lupa makan. Aku gak mau kamu sakit. Aku akan selalu mendukung apapun yang kamu mau, asal itu adalah baik. Sama seperti ucapmu, "Aku kan selalu dukung sayank..." (^.^)
Ada banyak hal yang menjadikan aku semakin sayang dan percaya ma kamu setelah aku sehari di sana. Mendekapmu di tengahnya malam, memberi kehangatan tersendiri buat aku. Jujur, aku tak pernah sebahagia dan selepas ini.
Dulu, aku memang memiliki seorang kekasih yang sangat aku sayang. Tapi serius, aku memupuk sayang untuk dia karena terpaksa, tak pernah aku sedamai ini saat bersamamu. Aku memupuk rasa sayang padamu memang karena keinginanku, aku memilih kamu karena aku benar-benar percaya dan mendengar kata hatiku yang memilih kamu.
Malam itu, malam yang indah untuk aku, serba terkejut dengan respon dan sikapmu. Kamu genggam tanganku seolah tau aku memang kedinginan menahan angin malam yang gak wajar, merespon keinginanku di masa depan, dan semua hal yang semakin membuat aku hanyut dalam cintamu.
Di ujung pertemuan kita, kulihat satu bintang di langit dengan latar kemerahan di awan.
"Yank, itu bintang..." kataku sambil menunjuk satu-satunya bintang di langit, mengalihkan pembicaraan kita.
"Iya, dia lihat kita." Jawabmu seraya tersenyum padaku.
Sungguh, aku merasa sangat nyaman berada di sampingmu. Biarpun kata mereka kamu adalah sosok laki-laki yang tidak peka, tapi aku suka. Biarpun mereka merasa aneh dengan sifatmu yang aku terima dengan senang hati, aku tak peduli. Aku suka kamu yang apa adanya. Aku selalu suka dengan caramu mencintai aku.
Aku melihat sisi lainmu. Aku semakin sayang padamu. Aku semakin hanyut dalam pusaran kasihmu. Tak lagi ada ragu padamu. Sepenuhnya aku percaya padamu, kamu adalah yang mampu selalu membahagiakan aku....
Kasih, percayakan cinta dan kasihmu padaku juga...
Kan aku jaga itu untuk masa depan kita...
Love you, AV...