Jika aku marah,
jika aku menangis, jika aku terlihat lemah, apakah itu salah? Aku tidak merasa
pongah dengan keangkuhan mengakui kelemahanku. Aku sadar aku hanya manusia. Tuhan
ciptakan aku bukan dari cahaya seperti Dia menciptakan malaikat. Maka aku bukan
bagian dari malaikat. Aku memiliki amarah dan kelemahan.
Jika aku tak
sanggup berkata-kata, kemana aku akan melangkah? Apakah ada satu orang saja
yang berniat meminjamkan pundaknya padaku? Aku rasa tidak akan ada. Ayah yang
selalu ada untukku telah berada di hadapan Tuhan, beliau hanya bisa melihat aku berderai air mata. Mungkin beliau ingin memelukku dan menenangkan aku seperti
dulu yang beliau lakukan, tapi alam dan Tuhan tak mengijinkan. Dia yang aku
banggakan dan aku harapkan dapat menjadi penopangku telah pergi. Satu persatu. Sepertinya
aku selalu salah memilih pundak mereka yang lebih memilih kepentingannya
sendiri.
Jika aku mengeluh
demikian, aku menemukan satu jawaban, “Pada sahabatlah kamu bersandar.”
Tidak aku pungkiri,
aku memiliki banyak sahabat. Tapi apakah mereka tidak memiliki masalah juga? Haruskah
aku egois dengan meminta mereka untuk mendengarkan curhatku dan melupakan
masalah mereka sendiri? Itu bukan aku.
Tak aku temukan
pundak yang tepat ketika hati ini meronta meminta sedikit keadilan. Salahkah aku
jika aku mengeluh lelah dengan semua yang telah terjadi? Aku benar-benar lelah
menghadapi hidup ini.
Bukan, aku bukan
tidak bersyukur pada Tuhan. Hanya saja setiap orang disadari ataupun tidak,
diakui ataupun tidak, pasti memiliki titik jenuh akan kehidupan ini.
Yang aku butuhkan
adalah ketenangan. Tidak bisakah sebentar saja tenang dalam menghadapi amarah? Karena
aku muak dengan amarah yang berkobar namun terpendam dalam sekam. Tidak bisakah
sedikit saja berikan aku ruang untuk tersenyum melihat kedamaian? Bukan kedamaian
berupa topeng yang aku inginkan, aku ingin kedamaian yang sebenarnya. Yang nyata. Tidak
abstrak.
Duniaku tak hanya
sebatas tentang kalian saja, bukan aku tak ingin menghiraukan. Hanya saja
ketika kalian mendapat perhatianku, selalu aku yang terpojok. Niat baikku pun
hilang entah kemana. Dibuang sia-sia. Tak pernah berwujud.
Aku bingung. Aku gundah.
Aku gelisah.
Semua yang aku
rasakan membuat aku semakin yakin bahwa mati adalah jalan terbaik.
“Tidak, tidak,
Tuhan masih di pihakku.” Ujarku pada hatiku sendiri.
Sampai kapan ini
akan berlangsung? Sampai aku kehabisan air mata? Sampai aku mati dengan mulut
menganga yang berusaha mengatakan pada kalian untuk saling memahami? Atau sampai aku
kehilangan akal sehat karena memikirkan semua ini?
Aku pun tak berniat
mengalihkan apa yang menjadi kewajibanku kepada orang lain. Aku ingin berbagi
sedikit saja dengan mereka yang ingin membantuku. Aku bukan menyebar aib, aku
ingin menegarkan hatiku sendiri dengan semangat dari mereka. Terkadang semangat yang mereka berikan melebihi kebutuhanku, maka aku akan menyimpan semangat itu untuk kupakai esok. Jika esok semangat itu habis dan tak ada yang mengisi, entah apa yang akan terjadi padaku.
Tuhan, tidak
bolehkah aku melihat cahaya-Mu?
Sedikit saja....
Aku ingin tentram
dan damai....
Tuhan, ijinkan aku
merasakan sentuhan-Mu....
Sebentar saja....
Aku ingin pulas
dalam dekap-Mu....
Maafkan aku yang terlalu
ingin meninggalkan dunia ini sebelum takdirmu menyentuhku. Aku hanya ingin
bertemu dengan-Mu, Tuhan....
Akan aku ceritakan
bagaimana aku menahan sakit di hati, menyimpan luka untuk waktu yang tak
sebentar. Walau aku tahu, tanpa aku bercerita pada-Mu, Engkau telah tahu apa
yang terjadi padaku.
Tuhan, inilah
tulisan jeritan hati yang ingin aku katakan pada-Mu dan dunia....