Sulitnya memahami sifatmu. Aku gerah dengan semua hal yang kau anggap biasa saja. Memang masalah sepele, tapi bagiku ini adalah wujud dari perasaanmu. Aku pikir kau tidak pernah mencintai aku. Sakit jika memikirkannya.
Ingin rasanya aku marah padamu, namun aku tahu, itu adalah sifatmu. Aku telah berjanji untuk memahami sifatmu, dan aku harap kamu pun memahami sifatku.
"Aku kangen kamu." kataku dengan manja yang sewajarnya, karena aku bukan tipe perempuan yang manja setengah mati.
"Kan tadi udah telpon..." jawabmu membunuh rasa rindu yang membuncah setelah sekian lama tidak berkomunikasi denganmu. memang aku telah menghubungimu lebih dari dua kali sejak pagi tadi.
Tapi awal aku menghubungimu, kamu bangun tidur, masih belum enak diajak bicara, kedua kali aku menghubungimu, kamu baru saja selesai mandi, dan memintaku untuk menghubungi di lain waktu saja, karena kamu masih ingin sarapan. Aku turuti, ketiga kalinya aku menghubungimu, kamu dalam keadaan bersiap rapat organisasi. Sedikit sekali waktu yang aku punya untuk bicara denganmu. Berasa tidak memiliki seorang kekasih. Tragis memang.
Apakah itu memang sifatmu? Sakit hatiku menerima perlakuanmu. Hhhh...
Tak bisakah sedikit saja aku mendapat perlakuan istimewa darimu? Aku ini kekasihmu, bukan musuhmu. Aku ini kekasihmu, bukan mantanmu. Aku ini manusia, bukan robot tanpa perasaan.
Apakah kamu tidak mencintai aku? Seperti aku yang mencintaimu? Jika memang iya, maka lepaskan aku saja. Biarkan aku terpuruk dalam kesendirian dan pergi meninggalkan kenangan kita. Tak sanggup rasanya aku memikirkan perpisahan itu, tapi jika memang itu yang terjadi, maka aku akan berusaha bangkit. Dengan sisa kekuatanku yang kian berkurang.
Jika memang kamu sayang padaku, maka lihat lah aku, dengan cinta yang kamu miliki. Berikan perhatianmu padaku, seperti saat aku masih belum menjadi kekkasihmu. Karena aku suka perhatianmu itu.
Berubahkah kamu setelah memiliki aku? Aku tak ingin kamu berubah. Aku suka kamu yang sebelum menjadi kekasihku. Selalu sempat menghubungi aku walau sedang sibuk. Aku suka dengan caramu mencintai aku.
Sekarang, setelah kamu menjadi kekasihku, kamu berubah. Entah sudah berapa banyak alasan yang keluar dari mulutmu untuk tidak berkomunikasi denganku?
Aku harus apa? Apakah aku harus menganggap bahwa kamu tidak ada? Jangan buat aku ragu akan cintamu. Jangan buat aku berada dalam sebuah pilihan yang akan memisahkan kita.
Jawablah aku, aku harus bagaimana menghadapi sifatmu? Gampang-gampang susah memang untuk membungkus kasih ini dengan rasa percaya, aku butuh bantuanmu untuk menguatkannya.
Kasih, ada hal yang ingin aku dengar darimu, aku ingin kamu mengatakan, "Sayang, kamu adalah masa depanku."
Hanya itu yang ingin aku dengar, tak lebih....
Mengertilah, Kasih...
Kumohon...
Ingin rasanya aku marah padamu, namun aku tahu, itu adalah sifatmu. Aku telah berjanji untuk memahami sifatmu, dan aku harap kamu pun memahami sifatku.
"Aku kangen kamu." kataku dengan manja yang sewajarnya, karena aku bukan tipe perempuan yang manja setengah mati.
"Kan tadi udah telpon..." jawabmu membunuh rasa rindu yang membuncah setelah sekian lama tidak berkomunikasi denganmu. memang aku telah menghubungimu lebih dari dua kali sejak pagi tadi.
Tapi awal aku menghubungimu, kamu bangun tidur, masih belum enak diajak bicara, kedua kali aku menghubungimu, kamu baru saja selesai mandi, dan memintaku untuk menghubungi di lain waktu saja, karena kamu masih ingin sarapan. Aku turuti, ketiga kalinya aku menghubungimu, kamu dalam keadaan bersiap rapat organisasi. Sedikit sekali waktu yang aku punya untuk bicara denganmu. Berasa tidak memiliki seorang kekasih. Tragis memang.
Apakah itu memang sifatmu? Sakit hatiku menerima perlakuanmu. Hhhh...
Tak bisakah sedikit saja aku mendapat perlakuan istimewa darimu? Aku ini kekasihmu, bukan musuhmu. Aku ini kekasihmu, bukan mantanmu. Aku ini manusia, bukan robot tanpa perasaan.
Apakah kamu tidak mencintai aku? Seperti aku yang mencintaimu? Jika memang iya, maka lepaskan aku saja. Biarkan aku terpuruk dalam kesendirian dan pergi meninggalkan kenangan kita. Tak sanggup rasanya aku memikirkan perpisahan itu, tapi jika memang itu yang terjadi, maka aku akan berusaha bangkit. Dengan sisa kekuatanku yang kian berkurang.
Jika memang kamu sayang padaku, maka lihat lah aku, dengan cinta yang kamu miliki. Berikan perhatianmu padaku, seperti saat aku masih belum menjadi kekkasihmu. Karena aku suka perhatianmu itu.
Berubahkah kamu setelah memiliki aku? Aku tak ingin kamu berubah. Aku suka kamu yang sebelum menjadi kekasihku. Selalu sempat menghubungi aku walau sedang sibuk. Aku suka dengan caramu mencintai aku.
Sekarang, setelah kamu menjadi kekasihku, kamu berubah. Entah sudah berapa banyak alasan yang keluar dari mulutmu untuk tidak berkomunikasi denganku?
Aku harus apa? Apakah aku harus menganggap bahwa kamu tidak ada? Jangan buat aku ragu akan cintamu. Jangan buat aku berada dalam sebuah pilihan yang akan memisahkan kita.
Jawablah aku, aku harus bagaimana menghadapi sifatmu? Gampang-gampang susah memang untuk membungkus kasih ini dengan rasa percaya, aku butuh bantuanmu untuk menguatkannya.
Kasih, ada hal yang ingin aku dengar darimu, aku ingin kamu mengatakan, "Sayang, kamu adalah masa depanku."
Hanya itu yang ingin aku dengar, tak lebih....
Mengertilah, Kasih...
Kumohon...
Kemudian aku akan berlari memeluk dirimu yangg tengah menghampiriku juga...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar